Selasa, 30 Mei 2017

Penginjilan di Tanah Batak Oleh Pdt. A. Mohri


 
             I.       Pendahuluan
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:19). Ayat ini adalah merupakan Amanat Agung dari Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya ketika hendak terangkat ke Sorga. Para murid-murid melaksanakan Amanat Agung itu pada zaman-Nya dan kemudian dilanjutkan oleh orang-orang yang percaya kepada pemberitaan itu.
Missioner adalah seorang yang telah percaya dan menerima Injil di dalam kehidupannya. Salah seorang Missioner yang telah percaya dan menerima Injil adalah Pdt. A Mohri. Beliau bukan hanya sebagai pendengar Firman saja, melainkan juga bertindak sebagai pelaku Firman. Bersama dengan Pdt. I.L Nommensen, beliau melakukan Pekabaran Injil di Indonesia, secara khusus di Tanah Batak. Pdt. A Mohri bukanlah seorang yang pintar, akan tetapi dia memiliki banyak keahlian yang kemudian dapat membantunya di dalam Usaha Pekabaran Injil. Apa dan Bagaimana peranan Pdt. A Mohri di dalam perkembangan misi Pekabaran Injil di Tanah Batak?
Di dalam tulisan ini akan dipaparkan bagaimana perananan Pdt. A Mohri dalam perkembangan misi Pekabaran Injil di Tanah Batak  dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
I.       Pendahuluan
II.    Isi
2. 1 Sejarah Kekristenan di Tanah Batak
2. 2 Penginjilan oleh Pdt. A. Mohri bersama Pdt. I. L Nommensen
2. 2. 1 Sejarah ringkas Pdt. Ingwer Ludwig Nommensen
2. 2. 2 Partisipasi Pdt. A. Mohri dalam Perkembangan Misi di Tanah Batak 
III. Kesimpulan
Daftar Pustaka
          II.       Isi
2. 1 Sejarah Kekristenan di Tanah Batak
Di Pulau Sumatera, agama Islam sudah tersebar sejak abad ke-13. Dari Aceh, agama itu meluas ke seluruh pantai Timur (abad ke-15), ke pantai Barat (abad ke-16) dan ke pedalaman Minangkabau serta Bangkahulu (abad ke-17). Hanya daerah orang Batak di sebelah Utara dan beberapa daerah terpencil lainnya yang tetap berpegang pada agama nenek moyang. Orang Portugis, lalu VOC, tidak berani menyerang kesultanan Aceh yang kuat dan kerajaan-kerajaan Sumatera yang lain.[1]
Sementara daerah-daerah pantai Timur, pantai Barat dan daerah pedalaman Minangkabau serta Bangkahulu pada abad 13-16 menjadi suatu wilayah Batak Islam, dalam dasawarsa 1860-an (abad ke-19) beberapa penginjil bangsa Eropa berhasil memulai kegiatannya di wilayah Tapanuli Utara (Batak Toba). Salah satu badan penginjil bangsa Eropa yang berhasil melakukan penginjilan di tanah Batak adalah Rheinische Mission Gesselschaft (RMG) yang berkantor di Wuppertal-Barmen, Jerman.[2] Pada tahun 1861, daerah tanah Batak dijadikan oleh RMG menjadi lapangan kerja misi penginjilan.[3] Tahun kehadiran lembaga ini di tanah Batak ditandai dengan pertemuan 4 (empat) orang missionaris di Parau Sorat, Tapanuli Selatan, pada tanggal 7 Oktober 1861. Keempat orang missionaris itu adalah Heine, Klammer, Betz, dan Van Asselt. Sebelum empat orang ini, telah ada Usaha Pekabaran Injil (UPI) di tanah Batak oleh Nathaniel Ward dan Richard Burton dari Gereja Baptis Inggris. Akan tetapi, usaha itu gagal karena orang Batak memberikan pernyataan kepada mereka bahwa orang Batak tidak sudi mengubah adat istiadat mereka. Usaha PI ke tanah Batak kemudian dilakukan oleh Henry Lyman dan Samuel Munson dari gereja Kongregasionalis Amerika yang diutus pada tanggal 10 Juni 1833 oleh The American Board of Commissioners for Foreign Missions (ABCFM), di Boston. Namun keduanya dibunuh di Lobu Pining oleh penduduk setempat pada tanggal 28 Juni 1834.[4]


Dari sekian banyak missionaris yang telah diutus oleh lembaga Pekabaran Injil RMG, usaha PI di tanah Batak yang paling sukses dilakukan oleh missionaris Ingwer Ludwig Nommensen. Setelah melalui berbagai kesulitan, akhirnya I.L Nommensen berhasil masuk ke wilayah tanah Batak, yakni ke wilayah Silindung pada tahun 1863. Di wilayah ini, I.L Nommensen berhasil melakukan berbagai pendekatan kepada masyarakat Batak, antara lain: melalui musik, obat, persahabatan dengan lapisan masyarakat bawah dan mendidik mereka menjadi jemaat Kristen.[5] Keberhasilan para missionaris Eropa, khususnya I.L Nommensen dalam melakukan Pekabaran Injil di tanah Batak juga berkembang hingga pada masa kini. Hal itu dapat dilihat dari banyak gereja-gereja yang telah berdiri di tanah Batak pada masa kini sebagai hasil dari Usaha Pekabaran Injil yang dilakukan oleh para missionaris-missionaris terdahulu. Tanah Batak tidak lagi dihuni oleh masyarakat yang percaya kepada roh nenek moyang, animisme, dan dinamisme. Akan tetapi, darah kekristenan telah mengalir di dalam diri setiap orang Batak melalui Injil yang telah diterima orang-orang Batak terdahulu yang kemudian mengalir secara turun-temurun kepada setiap keturunannya hingga pada masa sekarang.           

2. 2 Penginjilan oleh Pdt. A. Mohri bersama I. L Nommensen
2. 2. 1 Sejarah ringkas Ingwer Ludwig Nommensen[6]
Dr. Ingwer Ludwig Nommensen dilahirkan di pulau Nordstrand pada tanggal 6 Februari 1834. Dia berikrar untuk menjadi misionaris ketika dia mengalami sakit keras. Setelah mendapat kesembuhan, maka I.L Nommensen menepati janji/ikrar yang telah dia katakan kepada Tuhan Allah. Setelah dididik oleh badan Rheinische Mission Gesselschaft (RMG), kemudian I.L Nommensen ditahbiskan pada bulan Oktober 1861. setelah itu, I.L Nommensen berangkat dan diutus oleh RMG ke Sumatera untuk melakukan Pekabaran Injil. I.L Nommensen tiba di Padang pada tanggal 14 mei 1862. Rencananya adalah bekerja di kalangan orang Batak. Kesulitan yang dihadapi pada awalnya yaitu adanya larangan untuk bekerja di daerah pedalaman dan adanya komitmen sesama misionaris untuk memusatkan perhatian pada daerah Tapanuli Selatan. Setelah berusaha keras, I.L Nommensen akhirnya diizinkan untuk bekerja di daerah Barus. Ingwer Ludwig Nommensen tinggal di daerah Barus, mempelajari bahasa dan adat Batak dan Melayu. Pada waktu itu, daerah bagian selatan Tanah Batak telah dikuasai oleh agama Islam.[7] Oleh karena itu, I.L Nommensen melakukan perjalanannya ke daerah pedalaman pada tanggal 25 oktober 1862. Perjalanan tersebut dianggap sangat berhasil. Lalu beliau pindah ke Sipirok dan di sana bertugas untuk mendirikan sebuah sekolah. Pada bulan Nopember 1863, dia mengunjungi daerah Silindung. Di daerah ini, dia menghadapi masalah sifat permusuhan dari raja-raja di daerah tersebut. Namun dia sudah bertekad untuk dapat tinggal di sana, mengenal sifat orang Batak dan melayani mereka. Di daerah Silindung, I.L Nommensen mendapat dukungan dari seorang kepala suku Batak, yaitu: Raja Pontas Lumbantobing, sehingga I.L Nommensen berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan dan bahaya-bahaya yang dihadapinya berkat bantuan Raja Pontas Lumbantobing.[8] Keteguhan hatinya untuk hidup sederhana yang bersifat penyangkalan diri, ketekunan dan kepandaiannya dibidang pengobatan menyebabkan dia dapat tinggal dengan orang Batak dan melayani mereka, jasmani maupun rohani. Rencananya adalah untuk hidup jauh dari kehidupan perekonomian setempat dan akhirnya mendirikan suatu koloni Kristen yang dapat memenuhi kebutuhan sendiri.
Dalam sepucuk surat yang dikirimkannya ke Barmen, dia berbicara tentang suatu penglihatan yang dia perolah tentang hari depan masyarakat yang dilayani ini : “Dalam roh saya melihat dimana-mana jemaat-jemaat Kristen, sekolah-sekolah dan gereja-gereja kelompok orang Batak tua dan muda yang berjalan ke gereja-gereja ini. Di setiap penjuru saya mendengar bunyi lonceng gereja yang memanggil orang-orang beriman datang ke rumah Alah. Saya melihat dimana-mana sawah-sawah dan kebun-kebun yang telah diusahakan, padang-padang penggembalaan dan hutan-hutan yang hijau, kampung-kampung dan kediaman-kediaman yang teratur disalamnya terdapat keturunan-keturunan yang berpakaian pantas. Selanjutnya, saya melihat pendeta-pendeta dan guru-guru orang pribumi Sumatera berdiri di panggung-panggung dan di atas mimbar-mimbar, menunjukkan cara hidup Kristen kepada yang muda maupun yang tua. Anda mengatakan bahwa saya seorang pemimpin, tetapi saya berkata : tidak, saya tidak. Saya tidak bermimpi. Iman saya melihat ini semua; hal ini akan terjadi, karena seluruh kerajaan akan menjadi milikNya dan setiap lidah akan mengetahuibahwa Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. Karena itu, saya merasa gembira, walaupun rakyat mungkin menentang firman Allah, yang mereka lakukan tepat seperti mudahnya mereka mencegah firman Allah dari hati mereka. Suatu aliran berkat pastilah akan mengalir atas mereka. Hari sudah mulai terbit. Segera cahaya terang akan menembus, kemudian Matahari Kebenaran dalam segala kemulianNya akan bersinar atas seluruh tepi-langit tanah Batak dari Selatan bahkan sampai ke pantai-pantai Laut Toba”. Menurut berbagai sumber, penglihatan tersebut diperolehnya ketika beliau berdoa di Siatas Barita, Tarutung. Ketika I.L Nommensen meninggal pada tanggal 23 Mei 1918, Gereja telah bertumbuh dan mencakup kurang lebih 180.000 orang anggota jemaat yang dibaptis, telah berdiri sekolah-sekolah yang berjumlah 510 gedung yang mempunyai 32.700 orang murid yang terdaftar dan gereja yang dipimpin oleh 34 orang Batak yang ditahbiskan, 788 orang guru Injil dan 2.200 orang Penatua.

2. 2. 2 Partisipasi Pdt. A. Mohri dalam Perkembangan Misi di Tanah Batak 
Kedatangan para missionaris ke daerah tanah Batak telah berhasil membawa perubahan besar bagi orang Batak. Salah satu missionaris yang berhasil melakukan Usaha Pekabaran Injil di tanah Batak adalah I.L Nommensen. Salah satu daerah tempat Pekabaran Injil oleh I.L Nommensen yang dijadikan sebagai pusat pelayanan adalah daerah Silindung. Ingwer Ludwig Nommensen telah banyak membuat perubahan di dalam kehidupan orang-orang Batak pada masa itu, bukan hanya perubahan dalam bidang kerohanian, melainkan juga perubahan dalam bidang sosial-ekonomi, bidang kesehatan, dan bidang pendidikan. Perubahan-perubahan itu terjadi disebabkan karena keberhasilan misi yang dilakukan oleh I.L Nommensen yang disebut dengan metode misi empat dimensi, meliputi: Pendidikan, Kesehatan, Kerohanian, dan Sosial-Ekonomi.[9]   
Setelah RMG (Rheinische Mission Gesselschaft) melihat perkembangan misi yang sangat pesat di tanah Batak, maka badan ini mengutus para missionaris lainnya untuk membantu pekerjaan misi di tanah Batak. Dua orang missionaris yang diutus oleh badan RMG itu adalah: Pdt. P.H Johansen dan Pdt. A. Mohri yang bertugas membantu Ingwer Ludwig Nommensen di wilayah Silindung. Mereka berdua membantu I.L Nommensen dalam bidang pendidikan.
Pada tahun 1874, hampir 10 tahun sejak pembukaan perkampungan warga Kristen Huta Dame, I.L Nommensen bersama dengan dua orang missionaris yang diutus oleh badan RMG (P.H Johansen dan A. Mohri), memutuskan akan menyelenggarakan kelas sekolah permanent sebagai peningkatan dari model kelas yang belajar katekisasi. Para murid pemula adalah anak-anak dan remaja dalam batas usia yang masih cocok untuk mengikuti Sekolah Dasar.[10]
Meskipun Sekolah Dasar zending telah dibuka secara resmi oleh I.L Nommensen, masih cukup besar kendala yang dihadapi yakni soal pengadaan bangunan sekolah dan pengadaan pengajar. Pengadaan bangunan sebagai sarana untuk belajar masih belum memadai dibandingkan dengan jumlah anak-anak yang bersekolah pada masa itu. Oleh karena itu, I.L Nommensen, P.H. Johansen, dan A. Mohri selaku tim pengajar mendirikan sekolah yang disebut dengan “Sekolah Mardalan-dalan” yang dibagi dalam tiga tempat, yaitu: Huta Dame, Pansur Napitu dan Sipoholon. Ketiga Missionaris itu berpisah dalam tiga pos pelayanan penginjilan itu, yaitu: I.L Nommensen berada di Huta Dame, P.H Johansen di Pansur Napitu, dan A. Mohri di Sipoholon. Para siswa harus datang mengunjungi mereka secara bergiliran ke tempat pelayanan mereka masing-masing. Para murid harus melewati pematang-pematang sawah dan lumpur sejauh 8 Km untuk dapat sampai di tempat guru-guru mereka. Adapun pendidikan yang akan diperoleh oleh para murid dari ketiga penginjil ini, yaitu: pada hari senin dan selasa, para murid belajar kepada I.L Nommensen di Huta Dame. Pada hari rabu dan kamis, para murid belajar kepada P.H Johansen di Pansur Napitu, dan pada hari jum’at para murid belajar kepada A. Mohri di Sipoholon. Penempatannya di Sipoholon menjadikan A. Mohri menjadi seorang guru (pengajar). Pdt. A. Mohri mengajar para murid untuk mempelajari bahasa Melayu, Agama Islam, musik, bernyanyi, bermain orgel, dan mengajarkan tentang ikhwal penataan jemaat.[11] Pada hari sabtu, para murid berlatih dan belajar sendiri di rumah zending, atau di kampung sendiri bagi yang tidak tinggal di Huta Dame. Kemudian pada hari Minggu, murid-murid diajak oleh ketiga guru secara bergiliran untuk mengunjungi kampung-kampung di wilayah Silindung untuk melakukan evangelisasi dengan iringan lagu-lagu koor yang sangat merdu.[12] Demikianlah tugas dari Pdt. A Mohri dalam pelaksanaan misi Pekabaran Injil di Tanah Batak. Pdt. A Mohri adalah rekan kerja dari I.L Nommensen dalam bidang pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat Batak sehingga terhindar dari kemiskinan dan kebodohan. 

       III.       Kesimpulan
Keberhasilan misi di Tanah Batak yang dilakukan oleh para missioner adalah ditentukan oleh cara pendekatan yang dilakukan dalam melaksanakan Usaha Pekabaran Injil itu. Seorang yang termasuk missioner yang bernama Pdt A Mohri bersama dengan Pdt. I.L Nommensen telah berhasil memberitakan kabar sukacita (Injil) di tengah-tengah kehidupan orang Batak. Keberhasilan mereka adalah bukan hanya sekedar berhasil dalam menyampaikan Injil, melainkan juga berhasil dalam mengentaskan kebodohan pada masa itu melalui pendidikan. Ilmu dan pengetahuan yang dimiliki oleh Pdt. A Mohri dengan senang hati diajarkan kepada orang-orang Batak pada masa itu, sehingga melaluinya banyak melahirkan tokoh-tokoh pemikir yang tidak berpikir Naif dan Radikal.     



















DAFTAR PUSTAKA

End, Th. van den
2007                            Harta Dalam Bejana (Sejarah Gereja Ringkas), Jakarta: BPK-Gunung Mulia

Hutauruk, J.R
1993                            Kemandirian Gereja,
Jakarta: BPK-Gunung Mulia

Lempp, W.
1976                                                  Benih Yang Tumbuh (Gereja-Gereja Sumatera   
                                    Utara),
      Jakarta: Lembaga Penelitian dan Studi DGI

Lumbantobing, Andar
1996                                                 Makna Wibawa Jabatan Dalam Gereja Batak,  
Jakarta: BPK-Gunung Mulia

Lumbantobing, K.M
1996                                                        Missionaris Lokal,
Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OFM
M.S.E Simorangkir,
2008                            Ajaran Dua Kerajaan Luther,
Pematangsiantar: Kolportase Pusat GKPI

S, J,  Th. Van den End dan J. Weitjens.
2008                            Ragi Carita 2, Jakarta: BPK-Gunung Mulia

Sihombing, S.
2008/2009                   Diktat: Mata Kuliah Sejarah Gereja Batak, Pematangsiantar: STT-HKBP


Sihombing, P.T.D
2004                            Benih Yang Disemai Dan Buah Yang Menyebar, Jakarta: Albert-Orem Ministry

Sumber dari Internet:
Chandra Hutabarat, Sejarah Ringkas Pelayanan Pdt. Dr. I.L Nommensen di Tanah Batak (http://gindagelo.blog.friendster.com/tag/hkbp/), diambil tgl. 12 Mei 2009



[1] Th. Van den End dan J. Weitjens. S. J, Ragi Carita 2 (Sejarah Gereja di Indonesia 1860-an-sekarang), (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2008), hlm. 181
[2] M.S.E Simorangkir, Ajaran Dua Kerajaan Luther, (Pematangsiantar: Kolportase Pusat GKPI, 2008), hlm. 249-250
[3] J.R Hutauruk, Kemandirian Gereja, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1993), hlm. 36
[4] W. Lempp, Benih Yang Tumbuh  12 – Gereja-Gereja Sumatera Utara, (Jakarta: Lembaga Penelitian dan Studi DGI, 1976), hlm. 111
[5]  M.S.E Simorangkir, Op. Cit., hlm. 250
[6] Chandra Hutabarat, Sejarah Ringkas Pelayanan Pdt. Dr. I.L Nommensen di Tanah Batak (http://gindagelo.blog.friendster.com/tag/hkbp/), diambil tgl. 12 Mei 2009
[7] Andar Lumbantobing, Makna Wibawa Jabatan Dalam Gereja Batak, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1996), hlm. 69
[8] Th. van den End, Harta Dalam Bejana (Sejarah Gereja Ringkas), (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2007),  hlm. 269
[9] S. Sihombing, Diktat: Mata Kuliah Sejarah Gereja Batak, (Pematangsiantar: STT-HKBP, 2008/2009), hlm. 39
[10] P. T .D Sihombing, Benih Yang Disemai Dan Buah Yang Menyebar, (Jakarta: Albert-Orem Ministry, 2004), hlm. 96
[11] K. M Lumbantobing, Missionaris Lokal, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OFM, 1996), hlm. 17
[12] P. T .D Sihombing, Op. Cit., hlm. 97-98

Rabu, 17 Mei 2017

PERANAN MEDIA MASSA DALAM PELAYANAN GEREJA





Komunikasi memiliki peranan penting dalam interakasi manusia. Komunikasi tidak hanya menolong manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tetapi juga berpengaruh dalam pembentukan budaya manusia. Secara Teologi, komunikasi dipahami lebih mendalam. Alkitab memaparkan komunikasi yang terjadi antara Allah dengan umat-Nya. Komunikasi tersebut direfleksikan sebagai relasi iman yang nyata dalam kehidupan umat.
Dalam perkembangannya, manusia kemudian menciptakan berbagai media komunikasi yang semakin mempermudah proses komunikasi tersebut. Dalam perkembangan media komunikasi ini, gereja ikut serta membudidayakan media tersebut dalam praktek pelayanannya. Secara khusus media elektronik yang sangat berkembang saat ini, gereja membudidayakannya untuk memfasilitasi pertumbuhan iman umat.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap bentuk media komunikasi khususnya elektronik, memiliki dampak positif dan negatif. Gereja perlu mengantisipasi pengaruh perkembangan media ini agar tidak menjadi batu sandungan bagi pertumbuhan iman jemaat. Karena sangat disayangkan dengan tujuan yang baik tetapi justru dapat menghancurkan esensi persekutuan itu sendiri.
Peradapan manusia sangat tergantung dengan perkembangan media komunikasi yang dipakai. Manusia berusaha menemukan  media komunikasi  yang bertujuan untuk mengatasi banyak permasalahan dalam hidupnya.  Orang percaya sepanjang zaman  memakai media komunkasi  itu menjadi  alat untuk pekabaran Injil. Bersamaan dengan kapitalisasi dan modernisasi  yang berkembang, peran media semakin kompleks dan vulgar. Media  tidak lagi ‘hanya” wadah penyampaian informasi untuk berbagai kebiasaan . Kekuatan media ini terbukti mengambil bagian yang  strategis dalam Pekabaran Injil. Pelayan gereja tidak hanya melalui ibadah dalam gereja saja, namun gereja dapat menggunakan media internet. Pelayan melalui media internet dapat dilakukan, misalnya gereja perlu mengirimkan bahan-bahan renungan harian, artikel. Melalui hanphone dengan mengirimkan pesan-pesan Alkitabiah terhadap warga jemaat.
Penginjilan merupakan salah satu tugas gereja yang sangat penting sesuai dengan  amanat Agung Tuhan Yesus dalam Matius 28:19-20.  Ada beberapa hal yang dapat dilihat sebagai  kontribusi  pelayanan yang dapat dilakukan  melalui media elektronika, misalnya seperti radio. Teknologi bijak untuk disikapi sebagai berkat Tuhan kepada manusia. Di dalam perspektif Kristen, era informasi dan teknologi merupakan peluang untuk mewujudkan secara maksimal berita keselamatan yang dinyatakannya dalam Yesus Kristus. Di satu pihak Allah menghendaki manusia hidup sejahtera agar manusia dikaruniai akal budi, sehingga manusia dapat mengembangkan kehidupannya. Kebutuhan dan penyebaran informasi sebenarnya sejalan dengan semangat kristiani. Maka, kemajuan teknologi adalah potensi yang terbuka untuk dikembangkan bagi kepentingan pelayanan gereja.
Melihat keadaan hidup manusia pada era informatika, gereja harus secara proaktif dalam tugas dan pelayanannya. Misalnya, melakukan program pelayanan yang disesuaikan dengan informatika tanpa menghilangkan sistem tradisional dalam berkomunikasi. Gereja juga harus sudah dapat menggunakan alat-alat informatika dan mengakses berbagai informasi yang dibutuhkan.
Setiap informasi harus dapat dipahami sebagai bahasa untuk petunjuk “planning direction” (perencanaan dan pelayanan). Dengan demikian kemajuan teknologi informatika tidak hanya berpengaruh terhadap dunia, termasuk gereja dan orang-orang Kristen. Gereja perlu mengadopsi nilai-nila yang baik yang diperoleh dari informatika dan mengkomunikasikannya ke dalam kehidupan bergereja. Memang di satu sisi perkembangan teknologi informatika ada yang bersifat destruktif terhadap pelayanan dan kehadiran gereja. Disisi lain, perkembangan teknologi informatika dapat menjadi suatu peluang untuk mengembangkan suatu pelayanan gereja. Melalui teknologi informatika, kelemahan-kelemahan dalam pelayanan dan hambatan untuk meningkatkan efektivitas dan peningkatan pelayanan dapat teratasi. Salah satu hal positif dari perkembangan informatika adalah munculnya rasa tanggung jawab secara individual terhadap gereja. Setiap pribadi mempunyai peran yang dibutuhkan gereja. Hendaknya gereja menjadi tempat terbuka bagi siapa saja baik pribadi maupun keluarga warga jemaat, untuk bersekutu dan melayani sesuai dengan talenta yang dimilikinya masing-masing. Melihat keadaan hidup manusia pada era informatika, gereja harus proaktif memanfaatkan alat-alat informasi dalam pelayanan. Misalnya: dalam membentuk program pelayanan maka para pelayan harus menjadi orang yang dibangun atau yang mampu memanfaatkan alat-alat informasi tanpa menghilangkan sistem komunikasi tradisional. 

Ada dua kemungkinan sikap gereja terhadap perkembangan komunikasi dan informasi, yaitu:
1.   Gereja yang ekslusif: Gereja yang tertutup terhadap informasi dan komunikasi beserta alat-alat atau media informasi. Pemberitaan Injil, khotbah dan pengajaran iman Kristen hanya melalui komunikasi tradisional yaitu dengan pengajaran verbal (diluar itu tidak ada diminati).
2.   Gereja yang inklusif: Ada gereja yang terbuka terhadap informasi dengan melakukan program pelayanan dan memanfaatkan sarana-sarana informasi yang ada. Dalam setiap pelayanan selalu menggunakan berbagai data untuk menyebarkan pengajaran  iman Kristen dan berita Alkitab.
Sikap gereja yang kita harapkan ialah dengan terbuka menerima informasi tersebut  sekalipun harus diakui bahwa setiap informasi dapat berdampak destruktif (merusak) sekaligus dapat juga bersifat membangun (konstruktif). Namun justru karena kedua sikap itu dalam informasi dapat berfungsi sebagai pengarah program pelayanan (planning direction).
Dengan melihat sisi positif dan negatif tersebut, gereja dapat memanfaatkan informasi sebaik-baiknya sebab melalui sarana dan prasarana informasi, kelemahan-kelemahan pelayanan dan hambatan-hambatan yang ditemukan dapat teratasi. Gereja melalui pelayanannya juga harus mampu hadir ditengah-tengah jemaat sesuai dengan perilaku atau pribadi yang terjadi dalam jemaat. Dengan demikian pelayanan gereja di era informasi harus memanfaatkan sarana informasi dan komunikasi seefisien dan seefektif mungkin.
Hendaknya gereja menggunakan media massa menjadi kekuatan dalam peluang PI. Kekuatan media masssa memiliki peluang untuk mengkontruksi realitas yang sangat besar.  Media dengan mudah menciptakan kebenaran menurut persepsi  dari media tersebut. Masyarakat akan dengan mudah menginterpretasikan sebuah kebenaran yang dianut oleh  media tersebut, dan itu bisa berakibat baik dan juga sebaliknya.
Dalam teori pembelajaran sosial  media berada diposisi  sentral di dalam  struktur kehidupan bermasyarakat, baik itu pengaruh, kepentingan  maupun nilai-nilai kebenaran dapat dipertontonkan lewat eksistensi media  tersebut. Jika dipandang dari sudut teori pembelajaran sosial. Maka pemakaian  media massa untuk pemberitaan Injil dan pembentukan karaktek bangsa  adalah hal yang urgen untuk dilaksanakan gereja. Gereja perlu mengimbangi  media-media lain yang komersial. Berbagai penelitian mengatakan, menonton televisi dengan tayangan yang berisikan kekerasan, konsumerisme dll, secara berlebihan  di kalangan anak-anak bisa menyebabkan  cara hidup yang pasif dan malas bergerak pada anak-anak. Dalam hal ini gereja dapat melakukan, dimana gereja sebagai kekuatan yang berada diluar media dapat mempengaruhi pemilik media dan pelaku media agar lebih berpihak kepada nilai-nilai universal seperti yang diajarkan oleh Yesus.
Nampaknya media massa, kini dan masa yang akan datang akan menjadi salah satu faktor yang menentukan untuk membentuk kepribadian manusia baik secara negatif dan positif. Oleh sebab itu bagi gereja media massa menjadi peluang dan tantangan dalam pelayanan. Sehubungan dengan pemaparan di atas maka ada beberapa yang menjadi peran penting media massa yang perlu disikapi dalam meningkatkan pelayanan gereja yakni:

        1. Media massa sebagai sarana untuk berkoinonia
·       Media massa sebagai sarana untuk membangun antusias jemaat beribadah
·       Melalui Hand Phone gereja dapat membangun hubungan komunikasi persaudaraan di dalam kasih Kristus terhadap jemaat baik secara personal, komunal, regional, maupun global
·       Melakukan upaya-upaya kemitraan bersama gereja-gereja dan lembaga-lembaga Kristen lainnya untuk mencapai misi gereja
·       Membangun kemitraan antar jemaat Kristen dalam wadah oikumenis
·       Membangun komunikasi secara internsif dan berkelanjutan terhadap jemaat baik dalam hal ucapan ulang tahun kelahiran, ulang tahun pernikahan, dukungan moral.
·       Mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat memupuk dan meningkatkan kerja sama antar gereja. 
2. Media massa sebagai sarana bermarturi
Sebagai sarana untuk menyuarakan suara kenabian baik bagi warga jemaat, masyarakat dan juga pemerintah
·       Mengadakan kursus-kursus dan seminar-seminar tentang pelayanan media massa, terutama pelayanan Kristiani melalui media cetak dan elektronik
·       Menggunakan dan memanfaatkan media komunikasi massa, khususnya media cetak dan media elektronik sebagai sarana untuk memberitakan kabar baik bagi masyarakat.
·       Media massa (HP, TV, Radio) dapat sebagai alat untuk mengkomunikasikan Injil dan sebagai sarana  penginjilan yang praktis
·       Media massa sebagai sarana untuk melakukan sharing, diskusi maupun dialog secara personal
·       Membuat program-program siaran rohani bagi radio dan televisi yang berisi penerangan, pendidikan, kebudayaan dan penghiburan yang berlandaskan pada etika Kristiani.
·       Sebagai sarana informasi cepat dan praktis sehingga dengan mudah jemaat mengetahui dan terpanggil untuk menjadi bagian dari misi gereja
·       Sebagai sarana untuk memberikan pendidikan sosial politik, sosial ekonomi, sosial budaya,  IPTEK
·       Memberikan pemahaman dan panggilan orang Kristen dalam konteks masyarakat majemuk
·       Media massa sebagai sarana memberikan pengajaran moral, spiritual, melalui TV, Radio, HP, Internet, media cetak, majalah gereja, dll.

v                    3. Media sebagai sarana berdiakonia
·        Media massa sebagai sarana untuk sosialiasi progam pelayanan dalam bidang sosial gereja
·       Membuka peluang-peluang bagi orang-orang Kristen untuk mengekspresikan imannya dengan berdiakonia
·       Sebagai sarana sosial untuk solidaritas
·       Media massa sebagai sarana pelayanan pastoral; Menghibur orang yang sakit, Menguatkan yang berduka, Meneguhkan yang bergumul dengan masalahnya, dan sebagainya.

KESIMPULAN
Komunikasi media massa  merupakan sarana  yang memberi dampak positif dan  negatif, hal ini tergantung bagaimana kita menyikapi dan menggunakannya. Gereja hendaknya memanfaatkan komunikasi media massa sebagai bagian integral dalam pelayanan gereja. Adalah bijak untuk mensyukuri perkembangan informasi komunikasi dewasa ini sebagai buah karya cipta perkembangan IPTEK. Oleh sebab itu Gereja dapat menggunakan  sarana  media massa  sebagai intrumen untuk meningkatkan pelayanan gereja. Media massa dapat berperan dalam tri-tugas hakikat gereja, yakni bersaksi, bersekutu, melayani untuk kemuliaan dan kebesaran nama Tuhan kita Yesus Kristus. Gereja juga harus sudah dapat menggunakan alat-alat informatika dan mengakses berbagai informasi yang dibutuhkan.
Sehubungan dengan peran media massa, serta dampak positif dan negatifnya bagi kehidupan warga jemaat maka ada beberapa hal perlu diperhatikan oleh gereja yakni:
  • Gereja  perlu membuat/membuka, dan mengembangkan layanan infomasi khusus, baik di tingkat pusat, distrik, ressort, pagaran, weiks/lingkungan, dimana jemaat dapat memberi dan menerima informasi secara cepat dan praktis. Secara khusus HKBP telah memiliki satu Biro informasi, namun biro ini perlu dikembangkan sampai ke jemaat lokal.
  • Memanfaatkan  daya media massa modern yang ada seperti radio, televisi, multimedia, internet.
  • Memberdayakan media alternatif yang lazim dikenal sebagai media komunitas seperti teater rakyat, gondang, drama, poster, selebaran, forum diskusi, dan folkmedia dalam bentuk sastra rakyat seperti pantun, teka-teki, syair, tarian, nyanyian dll. Media komunikasi komunitas ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya-budaya bangsa kita. Umumnya media-media itu memiliki hubungan yang sangat erat dengan pesan-pesan moral, tentang yang baik dan yang jahat
  • Gereja hendaknya tetap membekali jemaatnya untuk memiliki sikap kritis terhadap dampat negatif informasi media massa. Media massa dan informasi yang dihasilkannya bukan satu-satunya kebenaran mutlak untuk itu perlu dikritisi
 Gereja hendaknya senantiasa proaktif dalam mengakomoder setiap informasi yang berkembang dalam masyarakat (baik isu politik, ekonomi, sosial, agama, budaya, dll) dan memberikan penjelasan menurut iman Kristen.
Saya menggunakan Blog ini yaitu sebagai salah satu cara untuk mengkomunikasikan media massa dengan gereja. Dimana blog juga merupakan salah satu media yang bisa membantu gereja guna untuk pelayan atau dalam hal untuk menulis renungan-renungan harian atau bulan yang dimiliki gereja. Dengan adanya blog semua masyarakat bisa menggunakannya karena ini yang digunakan ini mudah untuk di akses dalam internet dan bias menjangkau sampai ke seluruh jemaat. Dengan adanya blog bisa membantu gereja dalam pelayan untuk mengabarkan injil atau kabar baik tentang Tuhan Yesus.

Kamis, 09 Maret 2017

Sekretaris Umum PP GMKI Lantik BPC GMKI P. Siantar-Simalungun Masa Bakti 2017 - 2019


Shalom. Badan Pengurus Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (BPC GMKI) Cabang P. Siantar - Simalungun Masa Bakti 2017-2019, pada hari Rabu, 08 Maret 2017 bertempat di Gereja HKBP Dame, P. Siantar telah resmi dilantik oleh Sekretaris Umum Pengurus Pusat GMKI bung Alan Christian Singkali
BPC GMKI P. Siantar-Simalungun Masa Bakti 2017 - 2019 dipimpin oleh Wahyu Nolim L Siregar sebagai Ketua Cabang dan Lampola Uli Sitorus Pane sebagai Sekretaris Cabang dengan dibantu 11 orang fungsionaris BPC lainnya. 

Keduanya terpilih dalam Konfercab XXVII GMKI Cabang P. Siantar-Simalungun yang digelar pada tanggal 23 - 26 Februari tahun 2017 di Wisma Methodis,Parapat yang menggantikan Fawer Full Fander Sihite dan Lasria Sari Gultom. Setelah menyampaikan kata-kata pelantikan, Skretaris Umum menyematkan kordon BPC secara simbolis kepada Ketua dan Sekretaris dan kemudian dilanjutkan dengan penandatangan berita acara serah terima jabatan dari BPC Masa Bakti 2015 - 2017 kepada BPC yang baru dilantik yang disaksikan oleh Sekretaris Umum.

Dalam kesempatan ini ketua cabang yang baru saja dilantik memberikan kata sambutannya, GMKI akan semakin menampakkan dirinya sebagai kontrol sosial. GMKI akan semakin kritis dalam mengikuti kebijakan-kebijakan yang akan dijalankan di pemerintahan di kota pematangsiantar. GMKI akan hadir dan berpihak kepada masyarakat yang termarjinalkan yang kehilangan akan hak-haknnya didalam konstitusi Negara Republik Indonesia. GMKI akan tetap mengkawal kebijakan pemerintahan dalam rangka pemajuan parawisata di Indonesia yang salah satunya Danau Toba dengan BODTnya, jelasnya.

Pada kesempatan ini juga hadir Bapak Parlaungan Purba selaku Ketua DPD KNPI P. Siantar dalam sambutannya berpesan kepada pengurus yang baru dilantik agar tetap berpikir positif dan lebih baik lagi, semakin meningkatnya semangat dalam melaksanakan program-program organisasi dari periode sebelumnya dan KNPI P. Siantar akan mendukung setiap kegiatan-kegiatan termasuk GMKI.

Sekretaris Umum PP GMKI juga memberikan arahan bagi pengurus yang baru dilantik agar selalu giat dalam mengemban tugas sebagai laskar-laskar Kristen dalam mewujudkan visi GMKI. BPC yang baru dilantik hendaklah mengilhami dirinya sendiri untuk semakin berdinamika. Harus memperkuatkan komitmen konstitusi yang telah disepakati.

Turut hadir dalam acara pelantikan tersebut antara lain yang mewakili unsur TNI/POLRI, Kelompok Cipayung, Pimpinan Gereja/Jemaat, Senior members GMKI dan undangan lainnya.

Selasa, 28 Februari 2017

KONFERCAB XXVII GMKI CABANG P.SIANTAR-SIMALUNGUN


Berdasarkan Anggaran Rumah Tangga GMKI, Konferensi Cabang bertugas;
a. Menilai laporan Badan Pengurus Cabang (BPC) dalam melaksanakan Keputusan Kongres, Keputusan Pengurus Pusat dan Keputusan Konferensi Cabang.
b. Menyusun Program Kerja, menetapkan struktur, kebijaksanaan dan anggaran pendapatan dan belanja cabang.
c. Menetapkan masa kerja kepengurusan dan memilih Badan Pengurus Cabang.

Ketua Pelaksana Konfercab May Luther D. Sinaga disekretariat GMKI di Perumahan Griya Jalan Asahan, P. Siantar mengatakan,” Kegiatan Konfercab GMKI merupakan sebagai landasan konstitusi dan agenda penting dengan tujuan  untuk memilih Pengurus yang baru Masa Bhakti 2017-2019, dan  Menilai Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ),  Pengurus 2015-2017 selama 2 tahun, ungkapnya
Luther juga mengatakan pemilihan Pengurus GMKI 2 Tahun kedepan merupakan poin penting untuk melanjutkan  estafet pergerakan Organisasi GMKI, dimana organisasi  GMKI merupakan organisasi kader dan punya tujuan ditiga medan pelayanan yakni, Pelayanan diperguruan Tinggi, Gereja dan Masyarakat, Jadi selaku Ketua Panitia Konfercab dirinnya berharap kepada teman-teman anggota GMKI Cabang P.Siantar untuk mengikuti proses Konfercab ini. 

 ” 4 Kader Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang P.Siantar-Simalungun bakal bersaing di Konferensi Cabang (Konfercab GMKI) ke XXVII.

“Jelang Konfercab GMKI P.Siantar-Simalungun, 4 kader mulai disebut- sebut namanya bakal mencalonkan diri sebagai kandidat Ketua, atau Sekretaris dan atau Bendahara BPC GMKI P. Siantar- Simalungun Masa Bhakti 2017- 2019, jika sejak beberapa pekan terakhir jelang Konfercab GMKI, sejumlah nama BPC, Pengurus Komisariat baik yang aktif dalam masa kepengurusannya santer dibicarakan di kalangan kader bakal menjadi calon Ketua, Sekretaris GMKI mendatang.

“ Kader- kader GMKI P.Siantar-Simalungun, yang marak disebut- sebut bakal menjadi  Calon Ketua, Sekretaris mendatang diantaranya, Tommy Jakobus Lubis Mantan BPC 2015-2017, Wahyu Nolim L. Siregar Mantan Ketua Komisariat STT-HKBP 2015-2016, May Luther D. Sinaga Mantan Sekretaris Komisariat STT-HKBP, Marnala Samuel Baoadi Sibarani Mantan Pengurus Komisariat STT-HKBP 2015-2016, Jepri Simanjuntak Mantan Waket Or Komisariat STT-HKBP 2015-2016.

Konfercab ke-XXVII GMKI Cabang P.Siantar-Simalungun yang dilaksanakan pada 23-26 Februari 2017 di Wisma Methodist, Parapat, berhasil menampung, menyusun serta merumuskan pemikiran seluruh para peserta yang hadir dalam acara tersebut mengenai kinerja dari GMKI BPC P.Siantar-Simalungun untuk kepengurusan selanjutnya. Di hari pertama, yaitu 23 Februari 2017, telebih dahulu diadakan KSL Internal GMKI, yang kemudian dilanjutkan kepada acara pembukaan Konfercab yang dihadiri langsung oleh Koordinator Wilayah I SUMUT-NAD yaitu Swangro Lumbanbatu. Sebelum dilanjutkan ke pemilihan majelis ketua  diberikan waktu kepada kakanda  Rekson Silaban untuk memberikan ilmu, motivasi serta menceritakan pengalaman selama berorganisasi.

Persidangan dalam Konfercab berlangsung dengan aman dan tertib, meskipun sempat beberapa kali terjadi ketegangan, baik itu antara peserta sidang dengan Badan Pengurus Cabang maupun antara Pengurus Pusat dengan peserta secara langsung. Namun hal tersebut dapat diselesaikan secara langsung dengan kepala dingin dan tidak mengutamakan ego pribadi. Bang Swangro Lumbanbatu  sebelum membuka Konfercab, sempat memberikan kata sambutan kepada seluruh peserta yang hadir. Bang Swangro Lumbanbatu menyampaikan banyak hal dan motivasi yang membangun dalam kata sambutannya, mulai dari membandingkan antara GMKI di masanya dahulu dengan GMKI di masa yang sekarang, lalu memberikan nasihat kepada seluruh peserta sidang agar mengikuti sidang dengan baik dan mentaati tata tertib yang akan disepakati dalam konfercab tersebut, serta jangan membiasakan budaya ribut, banting kursi dan meja seperti yang biasa dilakukan dalam persidangan-persidangan sebelumnya.

Ada pun majelis ketua dalam konpercab kali ini yang terpilih adalah Daniel Butarbutar dan Patuan Manurung untuk menemani majelis ketua perwakilan BPC yaitu Lestari Simanjuntak
Kegiatan selanjutnya  Badan Pengurus Cabang (BPC) Masa Bhakti 2015-2017 memberikan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ). LPJ berlangsung lama serta terjadi dinamika yang panas antara peserta dengan BPC. LPJ BPC GMKI tersebut diterima oleh anggota GMKI P.Siantar-Simalungun dengan banyak catatan revisi perbaikan. BPC Demisioner menyanggupi akan menyelesaikan LPJ tersebut dalam waktu dua minggu. Pembahasan LPJ sendiri dari pukul 17.00 sore sampai 05.00 pagi. Di pertengahan pembahasan LPJ BPC GMKI sempat teralihkan, karena sekitar 7 anggota GMKI asal Komisariat STT-HKBP pulang. Ijin pulang ini disampai oleh Martua Miktam Sibarani (Ketua Komisariat STT-HKBP), dikarenakan anggotanya harus mengikuti perkuliahan pada hari sabtu nya.

Pada saat pembahasan Komisi juga terjadi dinamika yang begitu panas sehingga meluapkan emosi setiap peserta namun hal ini dapat diatasi dengan baik dan kepala dingin. Sidang Komisi kembali dilanjutkan, dalam sidang komisi sendiri membahas kebijakan, langkah-langkah kongkrit dan gambaran di BPC periode mendatang. Sidang ini diwarnai kembali perdebatan pada topik Kriteria yaitu harus pernah menjabat BPC dan penanggung jawab komisariat dari calon ketua dan sekertaris cabang. Dimana pembahasan komisi tersebut  di mulai 25 Februari dari pukul 17.00pm - 06.00am  wib dan dilanjutkan kembali esok harinya sampai pukul 16.00 wib.

Selanjutnya pada momen yang ditunggu adalah pemilihan ketua dan sekertaris cabang. Ada beberapa calon ketua cabang yang di calonkan oleh peserta konpercab diantaranya yaitu Fawer Full Fander Sihite Mantan Ketua Cabang, Lasria Sari Gultom Mantan Sekretaris Cabang, Hizkia Silalahi, Daniel Pakpahan, Lintong Sirait, Wahyu Nolim L. Siregar Mantan Ketua Komisariat STT-HKBP 2015-2016 dan May Luther D. Sinaga Mantan Sekretaris Komisariat STT-HKBP 2015-2016 Singkatnya, terpilihlah saudara Wahyu Nolim L. Siregar (Komisariat STT-HKBP) secara aklamasi sebagai Ketua Cabang.

Setelah pemilihan ketua cabang dilaksanakan selanjutnya adalah sekertaris cabang, dimana terdapat juga dua calon yaitu Lampola Uli Sitorus Pane dan Jepri Simanjuntak. Pada pelaksanaan pemilihan sekertaris cabang saudara Jepri Simanjuntak menyatakan mundur sebagai calon sekretaris cabang dengan alasan karena surat menyurat bukan bagian dari bidangnya. Singkatnya, terpilihlah saudari Lampola Uli Sitorus Pane (Komisariat UHN) secara aklamasi sebagai Sekretaris Cabang.

Dua tahap terakhir adalah pemilihan tiga orang tim Formatur BPC GMKI P.Siantar-Simalungun dan 3 orang BPK (Badan Pengawas Keuangan) GMKI P. Siantar-Simalungun. Pada Formatur yang terpilih adalah Putra Marpaung, Hizkia Silalahi dan Lasria Sari Gultom (BPC). Pada BPK sendiri yang terpilih adalah Helen Panjaitan, Jhon Steven Napitupulu, William Halawa. Setelah semua kegiatan selesai, persidangan konfercab ditutup dan dilaksanakan ibadah penutupan. Hasil konfercab GMKI P.Siantar-Simalungun ini diharapkan kedepannya lebih bekerja secara maksimal buat BPC yang akan terpilih dimasa akan datang. Salah satu perwakilan BPC Demisioner yaitu Fawer Full Fander Sihite menyampaikan yakni "Konfercab kali ini dinamika yang termasuk panjang dan panas tetapi tidak membuat kader GMKI P.Siantar-Simalungun terpecah tetapi tetap menjadi satu, seperti amsal GMKI yaitu Ut Omnes Unum Sint."(SSAS)

Selasa, 10 Januari 2017

HKBP Menantikan Referensi Pengembangan Otorita Danau Toba



Ibadah syukur "Bona Taon" (awal tahun) 2017 Huria Kristen Batak Protestan yang dilangsungkan, Kamis (5/1) di Komplek Gedung Raja Pontas Lumban Tobing, Pearaja Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara.

Dalam syukuran itu, sukacita dan ucapan syukur berkumandang dengan kehadiran warga jemaat dan para tokoh Kristiani dengan tema acara, "Pendidikan dan Pemberdayaan"

Pada kesempatan itu, Ephorus HKBP Pdt Dr Darwin Lumbantobing dalam sambutannya menyampaikan, HKBP menungggu semacam referensi tentang pengembangan Otorita Danau Toba. "Kira-kira apa dan bagaimana nantinya Destinasi Pariwisata Danau Toba ini, tapi walaupun demikian HKBP tetap siap untuk bermitra dan bekerjasama dengan pemerintah yang tentunya dengan pemerintah setempat di daerah ini," kata Ephorus mengawali sambutannya.

Dikatakan, kalau sudah dikatakan destinasi pariwisata tentu HKBP tidak mungkin diam dan karenanya pada periode-periode sebelumnya HKBP sudah menunjukkan semacam sikap pada Februari tahun 2016 melalui rapat Majelis Pekerja Sinode (MPS) yang  menyimpulkan secara proaktif terhadap pelaksanaan Destinasi Danau Toba dengan sikap realistis tapi juga kritis dengan mempertimbangkan kebijakan lokal.

"Dengan itu jugalah yang kami perlu katakan saat ini, sikap ini kami teruskan bahwa kami sudah memeta 8 Distrik HKBP yang berada di zona Pariwisata Danau Toba ini dan 11 Distrik yang menjadi Distrik penyangga, dan kita masih meminta bantuan serta masukan bagaimana agar para Praeses yang ada di Distrik Pariwisata Danu Toba ini dan juga para Pendeta Resort benar-benar dapat pembekalan tentang apa yang akan terjadi nantinya," ungkap Ephorus.

Selain itu, Ephorus menghimbau para jemaat jangan terlalu cepat mengambil suatu sikap yang tidak melalui pertimbangan logis misalnya menjual tanah.
Ephorus juga menambahkan untuk mengedepankan faktor kultural yang diterjemahkannya dengan (misi) missionaris (anak Allah yang baik) dengan menjelaskan orientasi pelayanan tahun 2017 yaitu pendidikan dan pemberdayaan.

Ia juga menyinggung dalam suatu dialog dari dokumen tertulis, Raja Pottas bertanya saat itu kepada Nommensen, "Molo pola naung ro ho Tuan tu huta namion jala diboan ho hakristenon, ahama lapatanni i di hami bangso Batak" (apa untungnya bagi kami masyarakat Batak, kalau kami Kristen).

Itulah petanyaan raja Pontas Lumban Tobing kepada Nommensen, dan jawaban Nommensen adalah, kalau sudah orang Kristen kalian akan jadi maju dan kemajuanlah yang saya bawa menurut agama Kristen. Jadi jelas konsepnya adalah kemajuan, baik kemajuan pendidikan, kesehatan dan lainnya, kata Ephorus mengutip dialog itu.

Sementara, Wali Kota Sibolga Syarfi Hutauruk menyampaikan, selama dirinya menjabat Wali Kota, tidak ada lagi gereja yang tidak mendapatkan sentuhan dari Pemerintah Kota (Pemko) Sibolga. "Setiap tahun, para pendeta, guru jemaat dan tukang bunyi lonceng gereja, selalu mendapat semacam tujangan dari pemerintah Kota Sibolga," tuturnya.

Syarfi mengaku selalu memelihara kebersamaan bersama Wakil Wali Kota sepanjang itu merajut kerukunan antar umat beragama.
Saya selalu menghadiri kegiatan agama, termasuk saat Sinode Godang HKBP dan HKI, saya juga selalu hadir," imbuhnya disambut tepuk tangan riuh.
Sedangkan Anggota DPR RI Efendi Simbolon berharap agar keberadaan gereja HKBP yang berkantor pusat di Pearaja Tarutung itu senantiasa menjadi berkat bagi seluruh jemaat, serta bagi segenap masyarakat Batak. "Saya berharap, HKBP senantiasa menjadi berkat. Ini harapan terbesar saya dalam pelaksanaan agenda syukuran Tahun Baru 2017 ini," cetusnya.

Ibadah pesta syukuran Bona Taon HKBP dihadiri Ketua DPRD Tapanuli Utara (Taput), Ottoniyer Simanjuntak, Bupati Taput Nikson Nababan, Bupati Humbang Hasundutan (Humbahas) Dosmar Banjarnahor, Bupati Toba Samosir (Tobasa) Darwin Siagian, mantan Bupati Taput Torang Lumbantobing (Toluto). Kapolres Taput AKBP Dudus HD SIK, Dandim 0210/TU Letkol Arm Ezra Natanael dan lainnya.

Selasa, 08 November 2016

MEMBANGUN KEMANDIRIAN DALAM BER-ORGANISASI

Kemandirian bukan bawaan. Kemandirian tidak datang secara simultan. Ada peroses, dibutuhkan kebiasaan dan latihan secara konsisten untuk mencapai kemandirian. Kemandirian bukan monopoli pada seorang pemimpin saja. Kemandirian harus tumbuh dari setiap individu, kemudian individu membentuk kelompok, dari kelompok membentuk komonitas. Kemandirian harus menjadi spirit dan polarisasi dalam hidup keseharian. Ketika, individu, kelompok dan komonitas telah tercipta kemandirian maka akan tercipta satu tatanan hidup yang diniamis. Kemandirian di dalam organisasi misal, sebuah organisasi harus bisa menciptakan sikap kemandirian. 

Dengan adanya sikap kemandirian maka pola perjalanan organisasi akan mampu bersinergi dengan baik. Oleh sebab itu seorang pemimpin dituntut mampu membangun kemandirian dengan cara memberikan kepercayaan dan kontrol secara berkala dan berkelanjutan. Control diperlukan sebagai alat dalam melihat sekala dan prioritas selama ia bekerja atau berada di organisasi. Selanjutnya kepercayaan merupakan satu instrument guna membangun kemandirian terhadap diri dan patner itu sendiri “anggota”.

Dengan diberikan kepercayaan pada diri individu dimungkinkan individu tersebut akan terjadi dinamika “kompetensi” berupa tanggung jawab. Menumbuhkembangkan rasa percaya diri dan tanggung jawab bukan satu hal yang mudah dan juga bukan hal yang sulit. Maka pola intraksi dan komonikasi bisa didorong guna menciptakan pengaruh terhadap individu yang lain.

Tak mudah mengelola sebuah organisasi. Bukan berarti tidak bisa. Kematangan dan komitmen dapat menjadi bekal seseorang untulk menjalankan roda ke-organisasi-an secara baik dan sistematis. Keterbukaan antara anggota dengan anggota lain menjadi kunci dalam membangun seprirt yang lebih baik. Hindarilah sikap menggurui sesama anggota, karena pada perinsipnya manusia paling anti terhadap cara-cara seperti itu.

Kunci keberhasilan tidak dapat diukur dengan melimpahnya materi, atau kita bisa memimpin satu perusahaan besar. Karena banyak para pemimpin perusahaan besar ternyata mengecewakan karyawan-nya. Mengapa banyak pemimpin perusahaan mengecewakan karyawan-nya, jawabnya sederhana. Pertama tidak adanya komonikasi yang baik antara pemimpin dan yang dipimpin. Terkadang seorang pemimpin lebih mengedepankan sikap otoriter--nya, dan mengabaikan aspirasi bawahannya.

Organisasi bukan milik individu maka sikap individual itu harus dihindari. Setiap orang memiliki kepentingan dan penting bagi seorang pemimpin memahami kepentingan anggotanya. Tapi bukan berarti pemimpin harus tunduk dan terkontaminasi oleh banyak kepentingan. Komonikasi dan lakukan komonikasi, paparkanlah kepentingan perusahaan dan akomodasi kepentingan anggota. Karena dengan mengakomodasi kepentingan anggota, dengan sendirinya anggota akan mengedepankan kepentingan bersama.

Bangun sikap disiplin. karena disiplin akan membawa pada kesuksesan dan keberhasilan. Sukses belum tentu berhasil. Dan sukses merupakan keberhasilan.