Kamis, 21 Juli 2016

MANUSIA DAN ALAM (Tinjauan Etis-Ekologis Kristen Terhadap Hubungan Manusia Dengan Alam)




I. Pendahuluan
Seperti mata rantai yang terjalin hubungan, dan tak terputuskan satu dengan yang lain, demikianlah hubungan manusia dengan alam. Manusia dan alam berintegrasi korelatif, saling tergantung dan saling membutuhkan. Namun ada ketimpangan yang terjadi, dalam integrasi tersebut manusia melakukan tindakan yang sewenang-wenang terhadap alam, yang berakibat kepada rusaknya alam itu. Apakah itu disadari atau tidak, yang jelas manusia harus segera memperbaiki kembali hubungan integrasi itu dengan sikap etis yang bertanggungjawab.

II. Deskripsi
2.1 Manusia
Manusia adalah mahluk hidup yang cerdas dan mengalami pertumbuhan, dimana manusia dapat menyusun suatu etika dan perbuatan. Manusia sebagai mahluk hidup haruslah berjuang demi kehidupannya.[1]  Manusia memiliki keunggulan berpikir dibanding dengan mahluk yang lain. Manusia dapat “menyatakan sesuatu, mempertimbangkan, berkehendak, memilih dan juga berbuat”  dengan bebas. Tetapi dalam pandangan etis, kebebasan manusia itu adalah tanggung jawab moral sebagai makhluk yang memiliki kelebihan dari makhluk yang lain.[2]  

2.2 Ekologi
Ekologi berasal dari kata ‘ecology’ (Inggris). Kata ini terbentuk dari dua kata Yunani: ‘oikos’ berarti: rumah, rumah-tangga, keluarga atau tempat tinggal; dan kata ‘logos’ berarti: ilmu, pengetahuan atau uraian tentang. Jadi ekologi adalah ilmu pengetahuan yang menguraikan tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup (manusia, binatang, dan tumbuhan) dengan sesamanya dan dengan benda-benda mati di sekitarnya (alam).[3]Untuk mempelajari dan mengetahui keseimbangan dalam hubungan-hubungan itu dibutuhkan suatu ilmu pengetahuan, yang disebut ekologi.
Dalam ekologi, ditunjukkan bahwa bumi mengalami proses dinamis yang melibatkan manusia dan makhluk-makhluk hidup dalam interaksi yang saling mempengaruhi sehingga terwujud suatu keseimbangan. Lingkungan tempat berlangsungnya proses dinamis itu disebut ekosistem yaitu aturan atau tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi dan saling bergantungSecara ringkas dapat dikatakan semua ekosistem meliputi interaksi antara lingkungan biotik (alam hidup: tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia) dan lingkungan abiotik (alam tak hidup: tanah, air, udara, batu dll). Dan apabila keseimbangan dan keharmonisan tatanan itu terganggu melalui kerusakan atau pencemaran, maka manusia dan makhluk hidup lainnya akan terancam.[4]

III. Analisis
3.1 Tinjauan Teologis Hubungan Alam Dan Manusia
Pada kitab Kejadian dengan jelas diterangkan cerita tentang penciptaan langit dan bumi. Pada hari pertama Allah menciptakan langit dan bumi dan segala isinya (Kej. 1:1). Dunia yang diciptakan oleh Allah dan Allah tetap melihatnya – enam kali diulang (Kej. 1:4, 10, 12, 18, 21 dan 25) dan menyatakan dengan sederhana: “Semuanya baik”. Ungkapan itu jelas menunjukkan bahwa Allah menikmati ciptaan tersebut. Kata “baik” dalam bahasa Ibrani mempunyai arti yang lebih luas dari pada sekedar masalah etika, tetapi mencakup estetika. Kata “baik” ini juga berarti menggemakan sukacita yang menyertai karya ciptaan Allah.[5]  Dengan melihat bahwa ternyata dunia tempat tinggal manusia itu pada awalnya adalah baik diciptakan oleh Allah, namun ternyata dunia yang baik itu telah rusak dan tercemar oleh karena pelanggaran manusia terhadap kehendak Allah. Oleh sebab itu, patutlah jika disuratkan bahwa Tuhan bersesal, sebab manusia mendukacitakan hatiNya. Apakah yang menjadi keputusan atas “sesal” itu? Air bah adalah jawabnya. Artinya dalam “sesal” itu ada tindakan Allah untuk memperbaikinya kembali. Bumi yang dibanjiri oleh dosa membuat Allah murka dan kemudian karena dosa itu maka bumi dibanjiri air selama 40 hari sampai binasa. Akan tetapi dalam murka Allah ada anugerahNya, yaitu dengan penyelamatan Nuh terlebih dahulu untuk memisahkannya dari orang-orang lain yang akan binasa itu.[6]
Dengan melihat apa yang terjadi dalam masa Nuh itu, sebenarnya menyimpan maksud untuk menonjolkan pokok-pokok dasar Iman Israel yaitu: adanya kenyataan hukuman, dimana Allah memberikan perhatian yang besar kepada manusia. Maka, apabila manusia terjangkiti kejahatan Ia akan memutuskan memusnahkan dunia karena kejahatan akan hanya menuju kepada kehancuran. Selanjutnya, adanya kenyataan penyelamatan Allah,maksudnya adalah Allah menghukum manusia bukanlah sebagai kata atau tindakan terakhir. Ada satu orang yang mendapat kasih karunia Allah yaitu yang tidak bercela di hadapan Allah. Sehingga setelah berakhirnya air bah maka berakhirlah dunia yang penuh dengan dosa dan muncullah jaman baru  yang didasari oleh janji ilahi. Allah berjanji bahwa Ia akan memberikan kelestarian dan keteraturan yang abadi kepada dunia dan isinya (Kej. 8:21). Sungguh ini adalah suatu dunia jaman baru. Dan manusia harus bertanggung jawab untuk mengelolanya.

3.2 Permasalahan Manusia dengan Alam
3.2.1 Kapitalisme [7]
Semangat kapitalisme yang telah mendarah daging, menjadikan manusia tidak lagi memikirkan kondisi lingkungan. Kapitalisme telah menjadi cara sebagian besar kehidupan umat manusia dan mengiringi setiap manusia yang tak luput dari masalah-masalah keduniaan. Tidak dapat dipungkiri, manjadi orang kapitalis sampai saat ini masih terus bertambah hingga tidak terhitung jumlahnya. Semangat kapitalisme yang telah mendarah daging, menjadikan manusia tidak lagi memikirkan kondisi lingkungannya yang semakin terancam. Keinginan untuk menjadi kaya diwujudkan dengan mengeksploitasi alam secara besar-besaran. Merambah hutan, mendirikan pabrik, memproduksi kendaraan secara besar-besaran (yang tentu menjadikan pemakaian bahan bakar yang banyak), dll.[8]Karena semangat kapitalisme inilah manusia menjadi perusak alam yang menjadi tumpuan dan harapan akan adanya jaminan terhadap kelangsungan hidup manusia.

3.2.2 Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk turut mempengaruhi terjadinya krisis ekologi saat ini. Pengrusakan lingkungan hidup sangat berkaitan erat dengan kebutuhan manusia yang semakin meningkat. Jumlah penduduk dunia kian hari kian bertambah banyak. Diperkirakan sumber daya alam tidak mencukupi memenuhi kebutuhan hidup lebih dari 6 milyar jiwa penduduk bumi. Penduduk beberapa kota besar di dunia ini sekarang sudah mengkuatirkan ketersediaan air minum dan persediaan energi.[9] Pertambahan jumlah penduduk juga telah menyebabkan manusia untuk berusaha bertahan hidup dengan segala upaya. Setiap orang demi kebutuhan hidupnya harus menggunakan persediaan sumber daya alam yang ada. Banyak yang dulunya adalah hutan tropis kemudian digantikan menjadi lingkungan perkotaan, pemukiman, lokasi industri dan tempat rekreasi. Ini sangat mengancam keberadaan bumi ini. Kalau seluruh penduduk bumi ingin hidup baik, ada dua pilihan yang sama-sama tidak mungkin terjadi yaitu mengurangi jumlah penduduk global 87,5% atau menemukan delapan bumi baru[10].

3.2.3 Pembangunan
Pembangunan yang keliru dapat dikatakan merupakan penyebab pertama terjadinya krisis ekologi. Hal ini terjadi karena pembangunan selalu membutuhkan energi yang sangat besar, misalnya pembangunan industri dan pembangunan infrastruktur. Tanpa memikirkan sumber daya alam yang akan habis oleh pembangunan tersebut. Industri sangat membutuhkan bahan mentah dan bahan bakar yang banyak. Hal tersebut secara nyata telah menyebabkan berkurangnya sumber daya alam yang ada.[11]
Industri-industri besar akan banyak menghasilkan limbah yang menyebabkan tanah akan keracunan, polusi udara bahkan polusi suara. Demikian juga bertambahnya jumlah penduduk akan menyebabkan bertambahnya limbah rumah tangga, berupa sampah organik dan sampah anorganik. Dan tentunya semua itu akan mempercepat kerusakan alam ini.

3.3 Etika Ekologis Kristen
Manusia bagian dari alam, dalam artian bahwa manusia juga mempunyai peran serta dalam proses-proses biologis dan fisiologis seperti mahluk hidup lainnya. Namun manusia juga terpisah dari alam karena manusia memiliki kesadaran dan sanggup mengambil keputusan secara sadar tentang cara merubah alam ini. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana manusia memandang alam itu sebagai sumber daya untuk dikelola bagi kehidupan manusia itu. Dalam pendekatan etis kekristenan, manusia adalah segambar dengan Allah, di mana manusia memiliki hubungan yang khusus dengan Allah dibanding dengan ciptaan yang lain. Dari hubungan itulah tercipta tanggung jawab yang khusus untuk bertindak sebagai penatalayan dan pelaksana harian pemeliharaan ciptaan.   Jadi manusia diberi mandat untuk memelihara bumi, bukan mandat mengekploitasi.[12]
            Alam dan manusia adalah satu paket dalam hubungan dengan perjanjian Allah. Bumi adalah bagian dari alam semesta tempat bermukim manusia. Dengan demikian barang siapa yang merusak alam berarti ia merusak hubungan perjanjian itu. Disamping itu, pengerusakan alam akan mendatangkan kerusakan hidup umat manusia. Dalam kaitan ini, umat manusia tidak punya keistimewaan dengan ciptaan lainnya. Disitulah adanya saling ketergantungan di dalam komunitas manusia dengan alam semesta, yang mana manusia menerima mandat untuk memeliharanya.
            Dalam mandat itu, ada tiga model pertanggungjawaban manusia terhadap ciptaan Alllah, yakni:[13] Pertama, model penatalayanan, yaitu menuntut manusia bertindak sebagai penatalayan dalam hidup berlingkungan hidup. Oleh karena itu, manusia selaku penghuni bumi mengemban pertanggungjawaban memelihara alam semesta. Kedua, model persahabatan, yaitu adanya kesadaran bahwa bumi ini bukan hanya sebuah benda yang tak bermakna, melainkan sebuah tempat yang dipilih Allah untuk menjadi habitat khusus umat manusia. Bumi ini juga merupakan bagian yang dikasihi Allah (Yoh. 3:16), maka manusia menjadi partner Kristus dalam memelihara dan memperbaharui bumi ini. Dan yang ketiga, model kekeluargaan, yaitu kesadaran bahwa umat manusia sekarang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan generasi yang sebelumnya dan yang sesudahnya, oleh sebab itu manusia sekarang adalah yang menjadi pewaris bumi ini kepada generasi selanjutnya.
Karena itu, manusia tidak boleh hanya peduli pada dirinya sendiri, melainkan juga pada bagian-bagian lain dari dunia ini, yakni seluruh mahkluk hidup  dan  benda-benda mati di seluruh alam.[14]   Dengan begitu manusia dalam hal ini menjaga dan memelihara alam bukan demi kepentingannya sendiri tetapi kerena martabatnya sebagai mahkluk ciptaan Allah yang bertanggungjawab untuk menjaga alam.[15]

3.4 Peran Gereja Yang Ekumene
Peranan gereja yang terpenting berhubungan dengan lingkungan alam dan pertumbuhan adalah menolong orang-orang mencari patokan untuk menilai kemajuan. Banyak mata orang tersilau oleh kemegahan dunia modern. Mereka diombang-ambingkan oleh arus yang kurang mengerti. Dalam hal ini gereja perlu menolong mereka mengerti dan bila perlu menentang arus itu.[16]
Gereja selaku persekutuan orang percaya tidak hanya bertanggung jawab untuk mewujudkan persekutuan di antara sesama manusia, tetapi juga dengan lingkungan. Selama ini ekumene hanya dimengerti sebagai hubungan interdenominasi gereja, padahal arti kata oikos menunjuk pada bumi atau dunia sebagai tempat tinggal. Habitat adalah inti makna dari semua kata eko; ekonomi, ekologi, dan ekumenesitas.
Oleh karena itu, tujuan ekumene tidak bisa lagi terbatas pada usaha pembentukan Gereja Kristen yang Esa atau menciptakan hubungan yang harmonis di antara orang Kristen, tetapi harus menjangkau wawasan yang lebih luas, sesuai dengan arti dan makna yang terkandung dalam kata ekumene, yaitu dunia atau kosmos ini secara keseluruhan, khususnya hubungan dengan seluruh ciptaan. Kita perlu membedakan antara kataecumenical dan kata ecumenic, yang akar katanya sama yaitu oikos, tetapi maknanya berbeda. Kalau ecumenical berbicara tentang kesatuan iman, maka ecumenic berbicara tentang kesatuan manusia dengan segala sesuatu yaitu dengan semua realitas ciptaan Allah. Akan tetapi, keduanya mempunyai hubungan sebab kesatuan iman harus mempunyai implikasi terhadap kesatuan dengan seluruh ciptaan. Intinya harus dipahami bahwa ciptaan adalah tempat kehadiran Allah. Jadi, gereja ekumene (berasal dari oikos) menunjuk pada rumah tempat kehadiran dan kediaman Allah, maka sebagai jemaat gereja harus sejalan dengan Allah. Jemaat gereja adalah rekan sekerja Allah dalam menatalayani dunia.

3.5 “Selamatkan Bumi Demi Generasi Sekarang Dan Mendatang”[17]
Bumi ini adalah anugrah bagi manusia, dan akan menjadi warisan kepada manusia generasi mendatang. Bagi manusia, tak seorang pun yang ingin mewariskan harta bendanya kepada keturunannya dalam keadaan rusak. Demikianlah halnya dengan bumi ini yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Harapan akan kelestarian alam harus dipersiapkan dan diwujudkan semaksimal mungkin untuk kehidupan yang berkelanjutan dan berdamai sejahtera. Tanggung jawab itu adalah menjaga keutuhan segala ciptaan dan mengembalikannya agar seluruh ciptaan itu tidak bercacat sebagaimana diwariskan Allah kepada umat manusia. Oleh sebab itu, semua insan jangan hanya berorientasi kepada prestasinya saja tanpa mempedulikan tindakannya apakah sudah merusak alam atau tidak.
            Kesadaran akan kerusakan bumi dan memperbaikinya akan menjadi warisan yang baik bagi generasi yang akan datang. Dengan menyelamatkan bumi ini, akan semakin memperbaiki hubungan manusia dengan alam dan menjalankan mandat yang diberikan Allah.[18]

IV. Refleksi[19]
Dalam hal ini peran gereja mendapat tempat penting, karena gereja merupakan bagian dari dunia. Sebagai bagian dari dunia, maka gereja terpanggil untuk terlibat aktif dalam kesatuan dengan bagian-bagian lain dari dunia.
Jika keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus dipahami sebagai keselamatan untuk seluruh ciptaan, maka gereja terpanggil tidak hanya untuk menyatakan pelayanan dengan sesamanya manusia, tetapi juga dengan sesama ciptaan. Gereja harus melaksanakan pendamaian dalam rangka menghadirkan Kerajaan Allah. Sejalan dengan hal ini, Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD) memahami pendamaian dan pembaruan ciptaan sebagai tujuan dari misi gereja.[20]
Sejak tahun 1968 dalam Sidang Raya IV DGD di Upsala, Swedia, DGD membahas perhatian dan tanggung jawab gereja-gereja terhadap lingkungan hidup. Sedangkan, di Indonesia sendiri, baru dalam Sidang Raya XI PGI di Surabaya tahun 1989, dikukuhkan secara eksklusif pengertian pemberitaan Injil yang mencakup usaha pelestarian lingkungan hidup. Selain sebagai bagian dari tugas pemberitaan Injil, tugas pengelolaan dan pemeliharaan serta pelestarian lingkungan hidup menjadi salah satu dasar bagi gereja-gereja di Indonesia untuk berpartisipasi dalam pembangunan nasional. Bagi gereja-gereja di Indonesia, terdapat suatu permasalahan tersendiri dalam usahanya untuk menjadi penatalayan dunia. Pertama, gereja-gereja di Indonesia masih terkotak-kotakan dalam berbagai denominasi, di mana masing-masing denominasi memiliki concern tersendiri. Kedua, konsep ecumenic sendiri belum begitu populer di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan usaha untuk lebih menggugah kesadaran gereja-gereja di Indonesia akan perannya menjadi penatalayan dunia melalui berbagai cara, misal: diskusi teologis.
Diskusi yang perlu dikembangkan adalah sebuah etika bagi komunitas bumi (mencakup semua yang ada, baik yang hidup maupun tidak), karena masalah ekologi umumnya terkait dengan pandangan etis. Etika ini berdasarkan pada pernyataan sederhana bahwa "semua yang ada, ada bersama”. Ibarat tubuh, apabila kita tidak memelihara kesehatan tubuh kita, misalnya dengan istirahat yang teratur dan makan, minum yang baik, maka lama-kelamaan kita akan sakit. Sakit itu tidak hanya dirasakan oleh bagian tubuh tertentu, tetapi juga oleh seluruh tubuh. Oleh karena itu, manusia sebagai ciptaan yang berakal budi sudah seharusnya lebih arif dalam menatalayani dunia ini. Di sinilah peran gereja ditantang. Apakah ia berani menjadi nabi yang memperingatkan para pemimpin (di dunia) dalam menentukan kebijakannya, ataukah justru ia kehilangan peran kenabiannya.

V. Kesimpulan
Manusia dan alam memiliki keterikatan yang erat dalam hubungan dengan Allah dan Allah memberi mandat kepada manusia untuk bertanggungjawab atas kelangsungan dan kelestarian alam.




[1] B. T. Simarmata, Diktat Etika II, STT-HKBP, Pematangsiantar, 2008, hal. 2.
[2] Louis Leahy, Siapakah Manusia, Kanisius, Yogyakarta, 2001, hal. 182-185.
[3] GKPS, Ekologi, http://www.gkps.or.id/organisasi/142-ekologi.html, 30 November 1999, dikunjungi: 17 Oktober 2009.
[4] GKI, Gereja & Lingkungan Hiduphttp://suplemengki.com/?p=156, 03 Februari 2008,  dikunjungi: 17 Oktober 2009.
[5] William A. Dyrness, Agar Bumi Bersuka Cita, BPK-Gunung Mulia, Jakarta, 2004, hal. 26.
[6] R. A. Jaffray, Tafsir Kitab Kejadian, Kalam Hidup, Makasar, hal. 96-99.
[7] Muhibin AM, Jendela Ekologi,
[8] Gatot Susanta & Hari Sutjahjo (Peny), Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemanasan Global, Penebar Plus, Jakarta, 2007. hal. 32.
[9] Binsar Nainggolan, Pengantar Etika Terapan: Petunjuk Hidup Sehari-Hari Bagi Warga Gereja, L-SAPA STT-HKBP, Pematangsiantar, 2007, hal. 132.
[10] Victor Tinambunan, Gereja dan Orang Percaya: Oleh Rahmat Menjadi Berkat di Tengah Krisis Multi Wajah, L-SAPA STT HKBP, Pematangsiantar, 2006, hal. 54.
[11] Ibid, hal. 55.
[12] Celia Deane & Drummond, Teologi dan Ekologi, BPK-Gunung Mulia, Jakarta, 1999, hal. 81.
[13] Binsar Nainggolan, Op.Cit, hal. 133-136.
[14] Manusia dan alam merupakan bagian dari perjanjian Allah, artinya manusia dan alam merupakan bagian dari tujuan penyelamatan Allah sebagaimana yang terdapat di dalam Markus 16:15. Injil yang merupakan berita keselamatan bukan hanya diberikan kepada manusia saja tetapi juga untuk seluruh ciptaan Allah dan termasuklah di dalamnya alam.
[15] Purwa Hadiwardoyo, 7 Masalah Sosial Aktual, Yogjakarta, Kanisius, 2006, hal. 51.
[16] Malcolm Brownlee, Keterlibatan Dan Kewibawaan Manusia Dalam Lingkungan Alam, BPK-Gunung Mulia, Jakarta, 1982, hal. 26-27.
[17] Reinjustin Gultom, Manusia dan Lingkungan Hidup dalam: Nekson M. Simanjuntak dkk.(ed.), Pelayanan yang memperlengkapi Jemaat, PGI Sumatera Utara, Medan, 2009, hal. 345-347.
[18] Lihat VISI MISI DAN KOMITMEN JPIC (Justice, Peace and Integration of Creation),http://www.svdjawa.org/jpic.htm, dikunjungi tgl. 31 Oktober 2009. JPIC adalah merupakan organisasi yang melakukan usaha-usaha untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam dan mencoba untuk memperbaiki keadaan alam yang mulai rusak. Ini adalah tindakan yang harus didukung dan perlu ditiru dan dilakukan oleh yang lainnya.
[19] Sekaligus sebagai pandangan pembanding untuk dijadikan sebagai saran.
[20] Robert. P. Borrong, Etika Bumi Baru, BPK-Gunung Mulia, Jakarta, 2003, hal. 255

Sabtu, 27 Februari 2016

Tolong Dibaca Untuk para Pencinta Mie Instan...!! Lihatlah Sungguh Mengerikan, Ternyata Bumbu Mie Insatan Bisa Berubah Menjadi Kembang Api, Bagaimana Di Dalam Perut Kita Ya gays ? ((semoga bermanfaat, bantu share ya gays))

Mie instan jadi satu diantara makanan pilihan sebagian orang di Indonesia. Praktis dalam penyajiannya dan murah harga nya jadi satu diantara alasan memilihnya. Tahu mi instan banyak dikonsumsi, ahli medis juga berulang-kali mengeluarkan peringatan jika makanan itu tidak baik dikonsumsi.

Terutama bila jadi makanan sehari-harinya. Ada kandungan bahan memiliki resiko untuk tubuh. Diluar itu, mi instan sesungguhnya sulit diolah. Satu video pada jejaring YouTube perlihatkan bumbu mi instan bisa berpindah jadi kembang api jika dibakar. Kandungan apakah yang mengakibatkan demikian? Bumbu itu memiliki peluang untuk tubuh? Saksikan Videonya berikut ini Bahan Antikarat Dua bln. setelah itu,


sebagian petinggi di Delhi melarang penjualan mie instan Maggi

selama 15 hari, setelah uji tunjukkan kandungan timbal yang tinggi pada mi-mi tersebut di Delhi dan di negara sisi Uttar Pradesh. ” Uji di Delhi tunjukkan 10 dari 13 sampel (mi Maggi) memiliki kandungan timbal diatas ambang yang diijinkan, ” kata G Gurucharan dari kementerian makanan dan customer seperti diambil kantor berita AFP, hari Rabu (3/6/2015).

 ” Sekian semuanya sampel usai kami check, kami akan memohon penjelasan Nestle, ” lebih Gurucharan. Saat ini pemerintah memohon uji kandungan mi Maggi di semuanya daerah di India didalam kegelisahan mengkonsumsi mi ini dapat memiliki resiko buruk pada kesehatan. Beberapa jaringan supermarket besar telah menarik mi-mi Maggi dari sebagian toko mereka.

Nestle India, pemegang merk Maggi, menolak jika mi mereka tidak aman atau tidak sehat. Maggi menghadirkan banyak penerimaan untuk Nestle di India, dengan penjualan tahunan memperoleh sekitaran 15 miliar rupee atau lebih kurang US$235 juta. Mie instan Maggi begitu popular di grup murid sekolah dan mahasiswa dan iklan mi ini yang menyampaikan bila mi Maggi siap disantap cuma dalam tempo dua menit buat nama mi begitu disenangi beberapa orang.

Nestle menggandeng beberapa nama besar di Bollywood seperti Amitabh Bachchan, Madhuri Dixit, dan Preity Zinta, sebagai bintang iklan mi instan Maggi.

Hari Doa Mahasiswa Sedunia

Universal Day of Prayer for Students (UDPS) atau Hari Doa Mahasiswa Sedunia adalah salah satu hari ekumenis tertua di dunia. Ini pertama kali dirayakan pada hari Minggu 13 Februari 1898 oleh World Student Christian Federation. Dan selanjutnya, Universal Day of Prayer for Students (UDPS) selalu diselenggarakan setiap minggu ketiga setiap bulan februari.

 

GMKI dan BKM STT HKBP Siantar Simalungun Gelar Seminar Pendidikan

GMKI Siantar Simalungun bersama BKM STT HKBP menggelar seminar pendidikan dengan mengundang Central Philipines University Frof Dr.Ricardo Patricio sebagai pembicara Production Processing and Untilization of Moringga Oleifera/ Budaya Daur Kelor, di Aula STT HKBP Siantar Jalan Sangnawaluh Pematangsiantar, Kamis (18/2).

Prof Dr Ricardo Patricio menyampaikan manfaat daun kelor dapat digunakan untuk bahan pertanian maupun kegunaaan obatobatan. Dia menjelaskan di Pilipina membudidayakan daun kelor sangat berharga dan mahal. Menurut dia banyak orang menilai bahwa daun kelor merupakan mistik namun sesungguhnya itu hanya mitos.
Daun kelor juga sudah banyak dibuat produknya dalam bentuk serbuk untuk obat segala jenis penyakit. Ditambahkannya, daun kelor tidak ada efek samping saat dikomsumsi. Selain itu daun kelor juga bermanfaat membuat tanah menjadi subur bagi tanaman yang lainnya karena tanaman daun kelor menghasilkan cacing yang membuat tanah subur.

Pdt Dr Victor Tinambunan (Ketua STT-HKBP) mengatakan sangat senang atas kerja sama GMKI dengan STT HKBP khususnya dengan BKM (Badan Kordinasi Mahasiswa) STT HKBP dalam hal seminar ini. Ketua BKM STT HKBP Derismauli Sormania mengapresiasi kerjasama GMKI Siantar, dan berharap kegiatan seminar dapat menciptakan inovatif untuk kebutuhan mahasiswa.
“BKM STT HKBP Siantar sangat terbuka dengan GMKI dalam membangun kehidupan dan pola pikir mahasiswa STT HKBP agar dapat mengenal dunia eksternal,” ucapnya.

Ketua GMKI Fawer Sihite berharap sinergitas kerjasama harus lebih digalakkan ke depannya, semoga dengan kegiatan kali ini mahasiswa tidak hanya pencari kerja namun sebaliknya bisa memunculkan pekerjaan dengan kekreatifan hasil karya ilmiah.

GMKI Siantar-Simalungun Ajak Siswa SD Ikut Tanam dan Rawat Pohon

Pengurus GMKI Siantar-Simalungun melakukan aksi tanam pohon dengan siswa SD Negeri 091553 Desa Jawamaraja, Kecamatan Jawamaraja Bahjambi, Kabupaten Simalungun, Jumat (16/02/2016) sekitar pukul 09.00 WIB.
Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Siantar-Simalungun yang tengah melakukan penanaman 5000 pohon di sekitar lingkungan pekarangan sekolah Dasar Negeri (SDN) 091553 Desa Jawamaraja, Kecamatan Jawamaraja Bahjambi, Kabupaten Simalungun, Jumat (16/02/2016) sekitar pukul 09.00 WIB.
“Dalam rangka penanaman pohon ini, GMKI Siantar-Simalungun melibatkan para siswa menanam dan juga menjaganya. Hadir sebanyak 180 siswa, para guru dan kader GMKI Siantar-Simalungun. Kami mengucapkan terimakasih kepada BPDAS Asahan Barumun, Tojai Baru Siantar atas bibit pohon yang berikan,” ujar Fawer Full Fander Sihite, Ketua GMKI Siantar-Simalungun didampingi Daniel Tampubolon (Ketua Komisariat FKIP UHN), Yanti Sinaga (Pengurus Komisariat FKIP UHN) serta Icha Lumbantobing (Pengurus Komisariat USI).

Ia tidak lupa juga mengucapkan terimaksih kepada civitas SDN 091553 atas respon yang positif terhadap program tersebut. Disampaikannya kepada seluruh siswa agar mampu menjadi pelopor penanaman pohon untuk mengurangi pemanasan global yang saat ini sedang terjadi di dunia.
“Kiranya adik-adik mau menanam pohon di rumah dan merawatnya. Pohon itu paru-paru kota, paru-paru bangsa, paru-paru dunia dan bahkan paru-paru kita juga. Kami juga mengharapkan kepada Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Simalungun agar merekomendasikan SD ini menjadi sekolah percontohan yang mendapatkan penghargaan Adiwiyata dari Gubernur Sumut.

Dan, bantuan untuk pembangunan atau perbaikan bangunan pun sangat perlu diperhatikan oleh Pemkab Simalungun,” kata Fawer.
Sementara itu, Rikson Ambarita, Kepala SDN 091553 Desa Jawamaraja juga mengungkapkan banyak terimakasih kepada GMKI Siantar-Simalungun atas kerja keras dalam mengajar para siswanya dengan jam tambahan serta memberikan peralatan belajar dengan gratisnya.
“Kami dari SDN 091553 Desa Jawamaraja mengucapkan ribuan terimakasih dan juga turut mendoakan agar segala program yang di rencanakan GMKI Siantar-Simalungun dapat terlaksana dengan baik. Kiranya GMKI Siantar-Simalungun mampu menjadi pendamping masyarakat yang setia untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia,” tutur Rikson.

Ditambahkan Tommy Lubis selaku ketua pelaksana program pengabdian masyarakat menjelaskan kalau mereka sangat bangga kepada siswa SD 091553 karena selama proses berjalannya program pengabdian masyarakat ini disambut dengan baik oleh siswa-siswi tersebut.
“Antusiame adik-adik sekalian menambah semangat kami sebagai tenaga pengajar tambahan. Dan kami juga mengucapkan ribuan terimakasih kepada kepala sekolah karena telah memberikan ruang untuk kami melaksanakan kegiatan ini, kiranya ini menjadi permulaan yang baik untuk kita melaksanakan program yang lainnya nanti di desa kita ini,” ungkap Tommy.

Jumat, 13 Februari 2015

Sejarah HKBP

               HKBP sebagai salah satu gereja dengan jemaat terbesar di Asia dan merupakan wadah persekutuan umat Kristen dari suku Batak yang memiliki dinamika di dalam sejarah perkembangannya dari masa ke masa. Dengan berakhirnya krisis HKBP dan penyatuan kembali jemaatnya kiranya dapat menjadi pemacu untuk pelaksanaan pelayanan dan pekabaran Injil bersama-sama dengan jemaat Tuhan lainnya, agar semua suku, kaum dan bangsa yang berada di wilayah Indonesia dan di seluruh dunia mendapat baptisan di dalam nama
Allah Bapa, PuteraNya Yesus Kristus dan Roh Kudus.Kronologi
1825 – 1829 Perang Bonjol : Tuanku Rau menyerang bangsa Batak1834 Datangnya Pdt. Munson dan Pdt. Lyman utusan Kongsi Zending Amerika (Boston), tetapi mereka berdua tewas terbunuh di Lobupining.
1840 Junghun, seorang antropolog datang ke tanah Batak. Melalui kedatanagannya orang Eropa dapat mengenal orang Batak.
1824 Penginjil yang pertama datang ke tanah Batak, yakni Burton dan Ward
1849 Tuan Van der Tuuk dari Amsterdam – Belanda, utusan Kongsi Bible Netherland yang merupakan pembuka (perintis) jalan untuk pelayanan zending kepada suku Batak. Beliau menterjemahkan sebagian isi Alkitab ke dalam Bahasa Batak, menulis tata Bahasa Batak dan membuat kamus Bahasa Batak – Belanda beserta cerita-cerita rakyat.
1853 Akibat perlakuan yang tidak simpatik dari suku Banjarmasin terhadap pendeta, maka Dr. Fabri pimpinan dari Rheinische Zending – Belanda memutasikan para pendeta dari Banjarmasin ke Tanah Batak, setelah membaca surat yang datang dari Tanah Batak tentang pekabaran Injil yang baru dirintis di Tanah Batak.
1857 Pdt. Van Asselt dari Ermelo-Belanda, utusan Ds. Witteveen, melakukan pelayanan di Tapanuli di Desa Pardangsina (Selatan)
31 Maret 1861 Sebagai tanda diterimanya pekabaran Injil di Tanah Batak dimulai dengan adanya baptis perdana yang dilakukan oleh Pdt. Van Asselt terhadap dua orang suku Batak (Jakobus Tampubolon dan Simon Siregar) di Sipirok.
7 Oktober 1861 Pelayanan Rheinische Mission dari Jerman dimulai di Tanah Batak dan merupakan hari lahirnya Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), ditandai dengan berundingnya empat orang Missionaris, Pdt. Heine, Pdt. J.C. Klammer, Pdt. Betz dan Pdt. Van Asselt membicarakan pembagian wilayah pelayanan di Tapanuli.
1862
Berdirinya Jemaat di Sarulla dan Pangalaon Pahae
20 Mei 1864 Pdt. I. L. Nommensen membangun gedung di dusun Dame I yang terletak di Desa Saitnihuta Ompu Sumurung, kemudian dinamakannya Godung Huta Dame.
29 Mei 1864 Pdt. I. L. Nommensen mengadakan kebaktian minggu pertama di Godung Huta Dame, dan meresmikan gereja pertama yang dibangunnya di Tanah Batak, yaitu HKBP Saitnihuta (Huta Dame Saitnihuta) dan HKBP Pearaja (Kedua gereja ini satu kepanitiaan dalam merayakan Pesta Jubileum. Pada tanggal 20 Mei 1964, HKBP Pearaja merayakan Pesta Jubileum ke 100 tahun, tetapi untuk selanjutnya, tanggal 29 Mei merupakan tanggal resmi Pesta Jubileum yang akan dilakukan oleh kedua gereja ini).
25 Desember 1864 Pembaptisan Pertama kepada 3 orang di Gereja Sipirok, yaitu Thomas Siregar, Pilipus Harahap dan Johannes Hutabarat.
27 Agustus 1865 Pembaptisan Pertama kepada 13 orang di Silindung
1867 Berdiri jemaat HKBP Pansurnapitu
1868 Berdiri Sekolah Guru di Parau Sorat Sipirok: Murid pertama berjumlah 5 orang, yaitu: Thomas, Paulus, Markus, Johannes dan Epraim. Guru mereka adalah Dr. A.Schreiber dan Leipold
1870 Permulaan berdirinya Jemaat di Sibolga dan Sipoholon
1872
– Berdiri Sekolah Normal Pemerintah di Tapanuli Selatan
– Berdiri Jemaat di Bahal Batu
1877 Berdiri Seminarium di Pansurnapitu, jumlah murid pertama 12 orang
1878
– Pdt. I. L. Nommensen menerjemahkan Injil ke Bahasa Batak dalam aksara Batak dan aksara Latin.
– 306 Desa di Lembah Silindung masuk dalam pemerintahan Kolonial Belanda
1879 Pdt. Dr. A. Schreiber menterjemahkan Perjanjian Baru kedalam bahasa Batak Angkola
1881
– Diresmikan HKBP di Balige.
– Penyusunan Aturan Dasar dan Aturan Rumah Tangga HKBP, dan Pdt. Dr. I. L. Nommensen diangkat menjadi Ephorus HKBP
1883 Sekolah Pendeta Pertama dibuka dan 4 orang putera Batak pertama untuk Sekolah Pendeta, yaitu : Johannes Siregar, Markus Siregar, Petrus Nasution dan Johannes Sitompul. Tetapi, Johannes Sitompul wafat sebelum menyelesaikan studinya.
19 Juli 1885 Pemberkatan Pendeta Batak yang pertama di HKBP Pearaja, yakni : Johannes Siregar, Markus Siregar, Petrus Nasution.
13 Juli 1889 Diutus RMG Nona Hester Needham (23 Januari 1885 – 12 Mei 1897) melayani kaum ibu dan wanita. Ini menjadi awal pelayanan kepada kaum wanita dan anak-anak di Tanah Batak. Pelayanan Nona Hester Needham dibantu oleh Nona Thora di Silindung dan Nona Nieman di Toba.
1 Januari 1890 Terbit Surat Parsaoran Immanuel (Jurnal Gereja)
8 Januari 1890 Dimulai Nona Hester Needham melayani anak-anak, kaum perempuan di Pansurnapitu, serta turut membimbing murid-murid Sekolah Pendeta di Seminari Pansurnapitu.
1893 Sekolah Zending mendapat subsidi dari Pemerintah
1894 Perjanjian Lama di terjemahkan ke dalam Bahasa Batak oleh Pdt. P.H. Johannsen
16 Juli 1895 Nona Hester Needham ditemani seorang gadis Mandailing, Domi, mengadakan perjalanan ke Muarasipongi Kotanopan.
3 Mei – 26 Juli 1896 Nona Hester Needham melayani di Malintang, menginjili di tengah-tengah penganut agama lain di Mandailing Nametmet. Juli, Nona Hester Needham melayani di Maga hingga akhir hayatnya, serta di makamkan di tanah yang telah dibelinya sebelumnya.
1898 Terbit untuk pertama kalinya Kalender Gereja
1899 Dimulai “Pardonaion Mission Batak” yang didirikan orang Kristen Batak serta dipimpin Pdt. Henock Lumbantobing menginjili di daerah yang belum disentuh Injil, yakni: Pulo Samosir, Simalungun dan Dairi.
1900 Berdiri Sekolah Anak Raja dengan pengantar Bahasa Belanda di narumonda Toba. Guru Pohing dan Pdt. Otto Marcks. Sekaligus berdiri di tempat yang sama Sekolah Tukang.
2 Juni 1900 Berdirinya Rumah Sakit di Pearaja, yang di tahun 1928 pindah ke Tarutung (RSU Tarutung Sekarang)
5 September 1900 Berdiri Perkampungan penderita Kusta di Huta Salem Laguboti.
1901 Seminari Pansurnapitu pindah ke Sipoholon
1903
– Pemberitaan Injil ke Tanah Simalungun dimulai.
– Sekolah anak Raja di Narumonda menjadi Seminarium
– 7 Oktober Pesta Peringatan Kekristenan yang pertama di Tanah Batak.
1907 Berdiri Jemaat di Pematangsiantar
27 April 1908 Hari lahirnya Jemaat di Sidikalang.
1911 Berdiri Distrik di HKBP, yakni : Tapanuli Selatan (dh. Angkola), Silindung, Humbang, Toba (termasuk Samosir), Sumatera Timur (Simalungun – Ooskust).
1912 Pendeta HKBP Pertama di tempatkan di Medan
1917 “Hatopan Christen Batak” berdiri di Tapanuli sebagai organinasi masyarakat.
23 Mei 1918 Pdt. Dr. I.L. Nommensen meninggal dunia di Sigumpar
1918 Pdt. V. Kessel menjadi Pejabat Ephorus hingga tahun 1920
1919 Holland Inland School (HIS) Zending berdiri di Narumonda
1920 Pdt. Dr. J. Warneck dipilih menjadi Ephorus HKBP.
1922
– Pendeta HKBP pertama di tempatkan di Jakarata
– Guru Jemaat HKBP pertama di tempatkan di Padang
– 20 Juni: Sinode Agung (Sinode Godang) I di HKBP
3 Desember 1923 Dimulai pelayanan diakonia di Hepata
1927
– Berdiri MULO Kristen di Tarutung
– Pelayanan kepada kaum Muda yang dipimpin Dr. E. Verwiebe. Pada Juni 1952 dalam rapat Pemuda di Sipoholon ditetapkan menjadi NHKBP, dan menjadi awal minggu kebangkitan NHKBP (Parheheon)
1930 Berlaku Aturan Gereja (AD dan ART) yang baru.
11 Juni 1931 HKBP diakui pemerintah dengan Badan Hukum (Rechtperson) No. 48, yang tertulis di Staatsblad Tahun 1932 No. 360
1932 Pdt. P. Landgrebe dipilih menjadi Ephorus.
1934
-Berdiri Sekolah Tinggi Teologia di Jakarta, utusan HKBP yang pertama adalah : T.S. Sihombing, K. Sitompul, O. Sihotang dan P.T. Sarumpaet.
– Pendeta HKBP pertama di tempatkan di Kutacane, Tanah Alas.
-Berdiri Sekolah Bibelvrouw (Penginjil Wanita) di Narumonda yang dipimpin Zuster Elfrieda Harder. Tahun 1938 Sekolah ini pindah ke Laguboti.
1935 Pentahbisan Bibelvrouw yang pertama
1936 Pdt. Dr. E. Verweibe dipilih menjadi Ephorus.
1940
– 10 Mei semua Pendeta Jerman yang melayani di HKBP dipenjarakan Pemerintah Belanda
– Bulan Mei s/d Juli Ds. de Kleine menjadi Pejabat Ephorus.
– 10-11 Juli : Sinode Godang, Pdt. K. Sirait dipilih menjadi Voorzitter (Ephorus ) yang pertama dari Pendeta Batak.
1942
– Pdt. Justin Sihombing dipilih menjadi Ephorus.
– Tanggal 25 Nopember berdiri Distrik Samosir
– Distrik Jawa Kalimantan berdiri
1945 Kemerdekaan Republik Indonesia
1946
– 2 Februari : Berdiri Distrik Dairi.
– Sekolah Guru Huria (SGH) dibuka kembali di Seminarium Sipoholon
1947 Berdiri kembali Sekolah Pendeta di Seminarium Sipoholon
1950
– 4 Nopember : Berdiri Sekolah Teologia Menengah di Sipoholon
– Pdt. Justin Sihombing dipilih kembali menjadi Ephorus HKBP dan Ds. K. Sitompul menjadi Sekretaris Jenderal melalui Sinode Godang.
1951
– Universitas Bonn menganugerahkan gelar “Doktor Honoris Causa” kepada Pdt. J. Sihombing.
– 29 Nopember : Beridiri Distrik Sibolga dan Medan Aceh.
– Ditetapkan Sinode Godang Konfesi HKBP
– Berdiri Percetakan HKBP di Pematangsiantar
1952
– Berdiri SMA dan SGA di Tarutung
– HKBP menjadi Anggota LWF (Lutheran World Federation)
1954
– Pdt. B. Marpaung diutus Zending Batak menginjili di Pulau Mentawai
– 7 Oktober : Peresmian Universitas Nommensen di Pematangsiantar, sekaligus perpindahan Pendidiakan Teologia dari Seminarium Sipoholon ke Pematangsiantar.
– Nopember : Berdiri Distrik Toba Hasundutan.
– 15 Desember Penyerahan Rumash Sakit HKBP dari Pemerintah ke HKBP.
1955
– 13 Februari : Berdiri Panti Asuhan Elim di Pematangsiantar
– 25 Agustus : Berdiri Sekolah Puteri di Sipoholon
1957 17 Maret : Kirchentag (Kebatian Raya) di Pematangsiantar
1959 Pdt. Justin Sihombing dipilih menjadi kembali Ephorus HKBP dan Ds. T.S. Sihombing menjadi Sekretaris Jenderal. .
1961
– Berdiri Sekolah Tekhnik di Pematangiantar
– 7 Oktober : Jubileum 100 tahun HKBP di Tarutung
1962
– 3-7 Oktober : Sinode Godang Istimewa di Seminarium Sipoholon
– Ds. T.S. Sihombing dipilih menjadi Ephorus dan Ds. G.H.M. Siahaan menjadi Sekretaris Jenderal.
– Ditetapkan Aturan Peraturan (Ad & ART) yang baru.
1963
– Konferensi Kerja HKBP yang pertama.
– 1 September : HKBP Melepaskan HKBP Simalungun menjadi Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS).
– Awal dari Penginjilan di Sakai Kandis Riau.
– Kursus kaum Ibu yang pertama di Sipoholon.
1965
– 7 Februari : Peresmian Asrama Diakones HKBP “Kapernaum” di Rumah Sakit HKBP Balige.
– 9 April : Asrama Bibelvrouw di Sinaksak Pematangsiantar dimulai pemakaiannya, dan diresmikan tanggal 9 Juli 1967.
1966 6 Februari : Peresmian Youth Center “Jetun Silangit”
1967 2 April : Peresmian Asrama Pniel di Rumah Sakit HKBP Balige
1968 19 Februari : Peresmian Gedung-gedung di FKIP Universitas HKBP Nommensen di Pematangsiantar.
1971
– 17 Mei : Pendidikan Diakones dibuka di Balige.
– 17 Mei : Pembaptisan pertama kepada orang Rupat (daerah Penginjilan) sebanyak 136 orang yang dilayankan oleh Pdt. A.B. Siahaan, dkk.
– 11 Desember : Peresmian Asrama Bethel dan Betania di Rumah Sakit HKBP Balige.
1972
– 28 Mei : Peresmian Perkampungan Pendeta Pensiun dan Kantor Departemen Diakonia Sosial di Pematangsiantar.
– Ditetapkan Aturan Peraturan (ADT & ART) yang baru
– 30 Desember: Berdiri Distrik Tanah Alas
1974
– Universitas Wittenberg menganugerahkan gelar “Doktor Hanoris Causa” keda Pdt. T.S. Sihombing.
– 31 Juli : Berdiri Distrik Asahan Labuhan Batu
– Pdt. G.H.M. Siahaan dipilih menjadi Ephorus HKBP dan Pdt. Dr. F.H. Sianipar menjadi Sekretaris Jenderal.
– 2-3 Nopember : Jubileum 75 tahun Zending HKBP.
1976
– 27 Januari: Peresmian Pendidikan Diakones HKBP di Balige
– 2 Agustus: HKBP memandirikan HKBP Angkola.
1978
– 23-27 Januari: Sinode Godang Istimewa di Simanare Sipoholon
– Fakultas Theologia Universitas HKBP diputuskan menjadi Sekolah Tinggi Teologia (STT) HKBP.
– Pdt. P.M. Sihombing, MTh terpilih menjadi Sekretaris Jenderal HKBP
1979 24 Juni: Peresmian Distrik Simarkata Pakpak
1980
– 11 Juni: Kursus Ketrampilan Pria berdiri di Parparean Porsea
– 11 Agustus: Kursus Ketrampilan Wanita berdiri di Doloksanggul
1983
– 24 Februari: Persemian Distrik Tebing Tinggi Deli
– 28 Agustus: Penahbisan Diakones Pertama di HKBP Balige
1985 Februari: Peresmian Distrik Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel)
1986
– 27 Januari: Peresmian Auditorium HKBP di Seminarium Sipoholon
– 27 Juli: Penahbisan Pertama Pendeta Wanita di HKBP, Pdt. Norce P Lumbantoruan, STh
– 14 Agustus: Peresmian Kantor Induk HKBP di Pearaja Tarutung
1987
– 27-31 Juni: Sinode Godang ke 48
– Pdt. Dr. S.A.E. Nababan, LLD. dipilih menjadi Ephorus HKBP dan Pdt. O.P.T. Simorangkir, SmTh. menjadi Sekretaris Jenderal.
1988
– 23 Mei: Berdiri Distrik Humbang Habinsaran
– 10-15 Nopember: Sinode Godang Ke 49 menetapkan Garis-garis Besar Kebijaksanaan Pembinaan dan Pengembangan (GBKPP) HKBP
1990
– 20 – 9 Juli: Perkemahan Kerja Pemuda HKBP di Sipirok
– 10 – 15 Juli: Konferensi Pemuda di Sipirok
– 18 – 21 Juni: Konsultasi Teologia di Parapat
1991 9 – 12 April: Sinode Godang Ke 50
1992 23 – 28 Nopember: Sinode Godang Ke 51. Ada 3 agenda di Sinode Godang ini, yaitu; Penyelesaian Kemelut HKBP, Periode Fungsionaris dan menetapkan Aturan Peraturan (AD dan ART) HKBP untuk tahun 1992 s/d 2002. Sinode berhasil memutuskan: Tim Penyelesaian Kemelut dan Aturan HKBP 1992 – 2002 (AD) tanpa Peraturan (ART). Pemilihan Fungsionaris HKBP tidak terlaksana, terjadi keributan dan perpecahan di tubuh HKBP hingga tahun 1998.
1993 11 – 13 Februari: Sinode Godang Istimewa di Medan melalui undangan Pejabat Ephorus. Di Sinode ini terpilih Pdt. Dr. P.W.T. Simanjuntak sebagai Ephorus dan Pdt. Dr. S.M. Siahaan sebagai Sekretaris Jenderal.
1994
– 29 September – 1 Oktober: Sinode Godang ke 52 menetapkan Aturan Peraturan (AD & ART) tahun 1994 – 2004.
– 23 Oktober: Peresmian HKBP Distrik Indonesia Bagaian Timur (IBT)
1995
– 16 – 17 Juni: Sinode Godang Penyatuan HKBP Simarkata Pakpak Otonom dan GKPPD
– 6 agustus: HKBP memandirikan Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD)
– 24 September: Peresmian HKBP Distrik Jawa Barat, Jawa Tengah dan Yogyakarta (Jabartendy)
1996
– 17 – 22 Nopember: Sinode Godang ke 53 membicarakan Konfesi HKBP
1998
– 26 Oktober – 1 Nopember: Sinode Godang ke 54 di Pematang Siantar / Balige.
– Pdt. Dr. J.R. Hutauruk terpilih sebagai Pejabat Ephorus dengan tugas menyelenggarakan rekonsiliasi selambat-lambatnya enam bulan.
– 17 Nopember: Pernyataan bersama yang ditanda tangani Ephorus Pdt. D. Dr. S.A.E. Nababan, LLD dan Pejabat Ephorus Pdt. Dr. J.R. Hutauruk di Gereja HKBP Sudirman Medan, menentukan rekonsiliasi melalui Sinode Godang Rekonsiliasi tanggal 18 – 20 Desember.
– 18 – 20 Desember: Sinode Godang HKBP di Kompleks FKIP Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar. Pdt. Dr. J.R. Hutauruk terpeilih sebagai Ephorus dan Pdt. W.T.P. Simarmata, MA terpilih sebagai Sekretaris Jenderal
2000
– 26 Juli: Konfrensi Nasional HKBP di Convention Center Jakarta
– 21 – 24 Nopember: Sinode Godang di Seminarium Sipoholon nemetapkan ” Kebijakan Dasar Pendidikan HKBP” (KDP-HKBP)
2002
– 30 September – 1 Oktober: Sinode Godang di Seminarium Sipoholon menetapkan Aturan Peratutan (AD&ART) yang baru, berlaku 1 Januari 2004, dan Distrik : Jakarta 2, Kepulauan Riau, Jakarta 3, Riau, Langkat, Wilayah Tanah Jawa, Jambi.;
Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.
Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah …
(Yohanes 15 ; 16a)